Kamis, 29 Agustus 2013

Wisata dan Visa







Lajunya perkembangan teknologi dengan jaringan internetnya yang tanpa batas telah mengubah banyak hal yang ada dalam kehidupan. Salah satunya dampak positif yang terlihat nyata adalah pengaruhnya terhadap dunia pariwisata. Jaman masih serba manual dan jadul, info wisata hanya bisa dilihat dan dibaca melalui media cetak dan sesekali sepintas dari TV. dokumentasi pelakunya yang masyarakat umum dan tidak kerja di media maka hanya akan menjadi koleksi pengisi rak album foto yang hanya bisadilihat oleh orang terdekat. Tapi sekarang? Dengan bantuan sosmed dan jaringan internet yang tanpa batas membuat tempat wisata seluruh dunia dengan mudah dan cepat dilihat dan sampai kepada masyarakat luas. Setiap saat dan waktu dengan mudah kita bisa melihat berbagai sharing tempat-tempat indah wisatawan yang sedang jalan-jalan di penjuru dunia di sosmed dan dengan cepat akan menarik perhatian yang lainnya untuk ikut berkunjung.



Didukung perkembangan pesat bisnis online yang sekarang sedang marak dan berkembang pesat diantaranya portal transaksi online mulai dari tiket, penginapan, karcis tempat wisata dan berbagai kebutuhan lain semakin memudahkan masyarakat luas  dalam melakukan perjalanan wisata. Devisa yang menggiurkan dari pariwisata membuat banyak Negara berlomba menawarkan hal terbaik yang dimilikinya untuk disuguhkan pada  wisatawan mulai dari keindahan alam, hingga penghapusan Visa Wisata. Visa yaitu surat ijin masuk ke suatu Negara dengan tujuan tertentu dan dalam jangka waktu tertentu.

Hal ini juga sudah diterapkan di hampir semua Negara Asean kecuali Myanmar. Dimana masih diberlakukan Visa on Arrival (VoA) yaitu Visa yang bisa di apply para wisatawan saat sudah tiba di tempat. Ya istilahnya masih di permudahlah urusannya dan dari yang saya baca. Dan menurut pendapat saya hal ini sangat wajar mengingat kondisi Negara Myanmar sendiri dengan konflik dalam negeri yang panjang tentu banyak langkah kehati-hatian yang diambil dalam mengatur Negaranya. Tidak bisa di pungkiri, bagi saya sendiri yang belum pernah kesana dan hanya sering tahu Myanmar dari media saat pertama mendengar kata “Myanmar” yang dulu bernama Burma yang ada dalam pikiran pertama kali adalah “Konflik, Junta Militer dan Aung San Suu Kyi”. Sebagai orang awam yang belum pernah kesana dan hanya mengikuti berita konflik Negara dengan tagline Mystical Myanmar dari media saya yakin kebijakan VoA Myanmar ada hubungannya dengan kondisi ini (Konflik panjang). Negara yang sekarang masih dalam masa perbaikan dan reformasi di segala bidang ini saya yakin sedang mempersiapkan diri bisa mengejar ketertinggalannya dari Negara Asean lain terutama untuk menyambut Komunitas Asean 2015 yang sudah di depan mata dan salah satu kebijakan yang ada didalamnya yang dianggap terbaik untuk kondisi Negara mereka saat ini adalah dengan system Visa on arrival bagi wisatawan yang ingin kesana. 


Untuk visa wisata sendiri saya rasa sebenarnya tidak perlu karena orang berwisata ke sebuah nnegara itu adalah anugrah bagi Negara yang dikunjungi karena mendapatkan banyak keuntungan mulai dari materi (Devisa) hingga promosi wisata secara luas terutama bila yang berkunjung adalah blogger atau seorang reporter. Sudah pasti setelahnya akan muncul memenuhi media mereka masing-masing dengan cerita perjalanan yang bisa jadi “sales marketing” tanpa gaji yang bisa diandalkan. 


Meski dengan demikian semua Negara harus bekerja ekstra untuk mencegah dampak-dampak negative yang juga bisa mengikutinya seperti potensi “pekerja gelap” yang banyak bertebaran yang salah satu contohnya adalah di lingkungan keluarga saya sendiri yang beberapa orang menjalani kehidupan sebagai “pekerja kosongan” (istilah mereka yang bekerja tanpa permit/visa kerja dan masuk hanya menggunakan paspor sebagai wisatawan) di Malaysia dan bila ada razia imigran gelap biasanya mereka bersembunyi sementara. Hingga dampak ekstrem lain seperti human trafficking yang banyak terjadi dari longgarnya peraturan wisata ini.

Dan dengan Komunitas Asean 2015 yang akan lebih mempererat kerjasama antar Negara Asean dengan tiga pilar utamanya saya berharap dampak-dampak negative ini bisa ditanggulangi dan diantisipasi bersama dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar