Cukupi Asupan Zat Besi, Untuk Mencapai 5 Potensi Prestasi Anak



Anak yang sekarang kakinya lebih panjang dari mamanya, yang masa pertumbuhannya mengalami banyak kendala dan tantangan


Punya anak perempuan beranjak remaja, baru kelas 5 SD dan usia 11 tahun, tapi tingginya hanya selisih kurang dari dari 5cm, apa yang saya rasakan? Ada rasa Bahagia dan bangga setiap mendengar pujian banyak keluarga dan kerabat saat bertemu. 

“Wah…sekarang sudah besar dan tingginya mau melebihi mamanya” 

“Ya ampun, gizinya boleh banget ya…kakinya Panjang dan badannya sekel sehat” 

Dan kalimat-kalimat pujian lainnya meluncur lancer dari mereka setiap bertemu dengan kami. Tentu saya bahagia, karena terasa seperti memuji mamanya yang pintar ngurus anak. Bahkan di lingkungan rumah tinggal kami, tinggi badannya selalu terlihat mencolok disbanding teman-teman main sebayanya. 

Namun dibalik rasa bahagia itu, orang lain tentu tidak tidak tahu bahwa sebagai Ibu saya memiliki sedikit penyesalan yang bahkan serasa sulit ditebus hingga sekarang, terkait dengan tumbuh kembangnya. 

Pernah sakit saat usia 11 bulan hingga masuk rumah sakit hingga 10 hari, bahkan saat sudah diijinkan keluar kondisinya masih lemah dan tidak segesit dan seceria sebelumnya. Terlihat sering lemah, lesu, sering merengek seperti mengalami kesakitan terntentu yang tidak bisa dia ungkapkan. 

Namun karena minimnya pengetahuan, dengan segala keterbatasan kami sebagai orang tua, saya berfikir positif bahwa itu wajar menuju proses penyembuhan sepenuhnya. Bahkan saya sampai melewatkan “Banyak tanya” dengan dokternya karena sibuk dengan kesedihan saya sasat itu. 

Kini saya memiliki banyak ruang dan waktu untuk belajar tentang Kesehatan Ibu dan anak dari berbagai media, diskusi, webinar, artikel dari web terpercaya, menyadarkan saya bahwa dulu ada yang terlewatkan dan kurang dalam masa pertumbuhannya. Sedihnya hati ini ☹ 



Pikiran ini Kembali terlintas saat mengikuti webinar yang diadakan oleh Danone Indonesia pada 17 Desember 2020 yang membahas “Kekurangan Zat Besi Sebagai Isu Kesehatan Nasional di Indonesia dan Dampaknya Terhadap Kemajuan Anak Generasi Maju” 

Acara yang dimoderatori oleh Dr. dr. Ray Basrowi, MKK ini diawali dengan sambutan dari Bapak Arif Mujahidin, Corporate Communications Director Danone Indonesia. Dalam sambutannya beliau menjelaskan mimpi bangsa memiliki Generasi Emas 2045 tercapai atau tidaknya tergantung pada kualitas anak-anak balita saat ini. 

Namun saat ini berdasarkan data 1 dari 3 balita di Indonesia kekurangan zat besi yang berisiko tantangan tumbuh kembang bersifat permanen dan menghambat tumbuh kembangnya di kemudian hari. Baik dalam jangka pendek maupun jangka Panjang. 

Karena merupakan tanggung jawab bersama, Danone Specialized Nutrition Indonesia mengajak para orang tua memastikan kebutuhan zat besi anak Indonesia dapat terpenuhi dan terserap dengan baik. 

Terdengar sedernaha, namun pada kenyataannya berat berat ya teman-teman. Karena bahkan sebelumnya saya berfikir bahwa yang bisa terkena anemia hanyalah orang dewasa.☹ 




Presentase anemia baik pada anak mapun Ibu hamil tidak hanya menjadi tantangan Indonesia, tapi juga masyarakat global (Capture materi dr. Nurul)


Berikut ciri dan dampak kekurangan zat besi pada Ibu hamil dan balita yang mengakibatkan anemia. Dipaparkan oleh salah satu naras umber pada webinar kali ini, dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Klinik dan Ketua Departemen Ilmu Gizi Klinik FKUI 

Ciri anemia karena kekurangan zat besi saya yakin secara umum kita semua sudah tahu, di antaranya mudah lemah, letih, lesu. Akibatkan dari kurangnya kadar ketersediaan zat besi dalam tubuh lebih sedikit dari kebutuhan harian. 

Yang bila dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium ditandai dengan kadar HB dan cadangan zat besi menurun, terlihat gambaran anemia defisiensi zat besi dari hapusan darah tepi. 

Yang mana sebagai bagian dari hemoglobin mempunyai fungsi utama mengantarkan oksigen dari paru-paru ke bagian-bagian dalam tubuh. Apabila zat besi tidak mencukupi, maka organ-organ tubuh akan kekurangan oksigen. Dan pada anak akan menyebabkan gangguan tumbuh kembang kognitif, fisik hingga sosial. 

Dalam jangka Panjang akan mengakibatkan penurunan performa di sekolah, kurang atensi atau semangat pada lingkungan sekitar dan perubahan perlaku ekstrim yang cukup mengkhawatirkan. Salah satunya adalah perilaku yang disebut Pika. Yaitu perilaku aneh suka memgkonsumsi benda atau sesuatu yang tidak seharusnya. 

Pernah mendengar berita anak suka mengunyah batu bata, es batu atau benda lainnya? Bersadarkan pemaparan dr. Nurul inilah salah satu perilaku yang disebut pika. 

Defisiasi Besi Anak disebabkan antara lain : 

  1. Terlambat memperkenalkan MPASI 
  2. Kekurangan asupan protein terutama dari sumber hewani. Masalah utama yang sering dihadapi adalah anak sulit atau tidak suka mengkonsumsi makanan hewani. Pengalaman saya dulu, bisa jadi salah satu penyebabnya karena saya kurang mampu mengolah makanan berbahan hewani seperti dagung merah, ayam atau telur lebih bervariasi alias monoton. 
  3. Kurangnya konsumsi fortifikasi zat besi, baik dalam makanan maupundalam formula pertumbuhan. Ini penting diperhatikan bahwa makan untuk anak tidak sekedar “banyak” tapi harus dengan porsi seimbang dan memiliki kandungan gizi lengkap sesuai dengan kebutuhan anak pada rentang usia masa pertumbuhannya 
  4. Pemberian suplemen atau vitamin tambahan yang tidak sesuai indikasi. Banyak kasus Ibu-ibu membeli vitamin yang dipromosikan mengandung zat besi hanya karena terpengaruh promo, tawaran kerabat yang berjualan dan sebagainya. Padahal memberi suplemen harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh anak saat itu. 
  5. Tidak patuh minum suplemen. Terkadang karena alas an mual, anak tidak suka baunya, tidak suka rasanya, banyak orang tua mentoleransinya dengan tidak memberikan sesuai anjuran resep atau saran penyajian untuk konsumsi. Jujur jadi ingat diri sendiri yang dulu pernah melakukan dan mengalami hal ini ☹ 
  6. Penyerapan zat besi yang tidak optimal. Tubuh membutuhkan asupan yang seimbang antara vitamin dan zat lainnya satu sama lain, apabila mengkonsumsi zat besi namun kekurangan vitamin C, maka zat besi tidak akan terserap dengan baik. Karena protein hewani klop sistem kerjanya dengan Vitamin C dalam tubuh.

Semoga kita bisa memperbaiki pola asupan gizi seimbang anak kita ya. Menurut dr. Nurul defisiensi besi anak dapat diperbaiki dan dikejar. Namun masa koreksi konnitif pada usia hingga dua tahun yang terlewat tidak bisa diulang. Jalan satu-satunya? Yang saya lakukan sekarang hanya bisa berdoa dan meminta maaf pada anak. 

Sepanjang mengikuti materi saya ingat setelah sakit lama pada rentang 12 hingga 24 bulan Alisha, adalah masa terberat saya mengasuhnya dalam segala keterbatas kondisi. Yang kalua saya putar ulang ingatan itu terpampang jelas bahwa dulu asupan gizi, termasuk zat besinya sangat minim. 

Selain pada anak dalam rentang usia usia 6 bulan hingga 3 tahun yang merupakan masa kritis seringnya terjadi Defisiasi Besi, kasus lain yang butuh perhatian khusus adalah Defisiasi Besi Ibu hamil. 

Dampaknya tidak hanya pada Ibu, namun juga pada bayi dalam kandungan. Dalam jangka pendek bisa mengakibatkan seperti yang tertera pada gambar berikut. Catatan penting dari materi hari ini bahwa Defisiensi Besi ternyata tidak hanya menjadi isu besar di Indonesia, namun juga masyarakat global. Jadi mari berjuang untuk tidak masuk ke dalam presentase ini ☹ 

Dampak jangka pendek anemia pada Ibu hamil (Capture materi dr. Nurul)


Narasumber berikutnya adala Ibu Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si, Psikolog Anak dan Keluarga yang akrab disapa Ibu Nina melengkapi penjelasan lebih detail dampak jangka Panjang Defisiensi Besi Anak yang rangkumannya sebagai berikut. 

Tiga aspek tumbuh kembang anak yaitu kognitif, terkait dengan kemampuannya berbahasa yang mempengaruhi mempengaruhi kecepatannya berfikir. Emosi yang mempengaruhi kehidupan sosialnya di mana akan mampu memberinya kepercayaan diri, aktif bersosialisasi dan Tangguh. 

Dan Aspek fisik yang mempengaruhi kemampuan motoriknya. Terlihat pada pertumbuhan fisiknya yang maksimal. 

Ketiga aspek tumbuh kembang ini, apapbila berhasil dicapai tanpa kendala defiseinsi salah satunya zat besi dan diberikan stimulasi yang tepat akan memberikan dampak 5 potensi prestasi. 

  • Berfikir cepat, yaitu kemampuan mengolah informasi secara mendalam, kritis, cerdas dan kreatif 
  • Aktif bersosialisasi, yaitu kemampuan berinteraksi dengan baik dengan lingkungan sosialnya. 
  • Tumbuh tinggi, perkembangan masimal fisik akan menjadikan anak lebih luwes, fleksible, lincah, sigap, kuat dan terampil. 
  • Tangguh, mampu mengatasi masalah, stress dalam kondisi menantang dan masa sulit. 
  • Percaya diri, anak akan lebih tahu apa yang dia sukai dan inginkan serta mampu melakukannya. Bukan Karena pandangan atau pendapat orang lain. 

Semua akan tercapai asupan gizi dan salah satunya zat besi tercukupi, dibarengi dengan stimulasi yang tepat. Bagaimana kalua tidak tercukupi? Ya berarti tidak akan tercapai maksimal, seperti yang digambarkan dalam grafis di bawah ini.

Langsung sedih dan sadar bahwa kondisi putri saya tidak maksimal di beberapa bagian 😐 (Capture materi Ibu Nina)


Selain wajib memperhatikan asupan vitamin dan gizi pada anak untuk mencapai 5 potensi prestasinya, berikut Stimulasi yang disarankan Ibu Nina, yang bisa dilakukan pada anak. 

  • Untuk berifikir cepat sering ajak anak mengobrol dengan Bahasa yang benar dan jelas. Jangan Bahasa yang diplesetkan. Membaca buku Bersama atau sering membacakan dongen.
  • Untuk tumbuh tingginya, selain memastikan asupan gizi seimbang dan cukup, berikan anak ruang gerak aman untuk anak. Dan memperbanyak anak berkativitas fisik baik di dalam maupun luar ruangan.
  • Untuk rasa percaya diri, berikan anak kesmepatan memilih. Dimulai dari hal kecil seperti memilih sendiri pakaian yang dia ingin pakai. Sering beri pujian dan atnesi pada Tindakan positifnya. Serta biarkan dan beri kesempatann anak mandiri merawat diri sendiri.
  • Untuk bersosialisasi, seringa jak anak berkomunkasi menggunakan bahas akeseharian dengan baik dan jelas. Beri tanggapan positif saat anak berinteraksi dengan lingkungannya dan dengarkan dengan baik segala cerita dan curhatnya. Sesekali ajak anak bermain peran di rumah.
  • Untuk ketangguhannya, beri anak kesempatan mengatasi sendiri masalah yang dihadapinya. Jangan terbiasa membantu secara langsung setiap anak mengalami kesulitan atau tantangan. Dan beri apresiasi pada usahanya, apapun hasilnya.

Pada sesi akhir, webinar diisi dengan sharing dari dua selebiriti yang juga Ibu muda, Alyssa Soebandono dan Tya Ariestya. Alyssa Ibu dua putra sharing bagaimana kesibukannya selama pandemic menemani buah hatinya belajar dan melihat tantangan jauh lebih berat untuk anak. Butuh konsentrasi maksimal agar anak mampu menjalani PJJ di rumah. Yang lumayan menimbulkan kekhawatiran Alyssa akan kesiapan maksimal putranya dalam menjalani komdisi ini.

Untuk kecukupan zat besi sang putra, terutama yang kedua lumayan picky eaters, Alyssa mengolah sedemikian rupa daging agar dapat lebih mudah diasup. Salah satunya mengolah daging dengan cara dihaluskan dan dicampur bahan lainnya.

Hal yang sama juga dijalani dan dialami oleh Tya dalam menemani tumbuh kembang dua putranya. Tya sangat khawatir pada kondisi anak akan mudah murung dan menjadi malas bergerak saat kekeurangan zat besi. Sehingga Tya pro aktif memastikan kecukupan gizi buah hatinya dan memberikan stimulasi dengan sering mengajak buah hati berkativitas fisik.

Tya tetap memasukan buah hatinya pada klub olahraga dengan protocol Kesehatan ketat selama pandemic untuk memastikan buah hatinya tetap aktif dan terstimulasi.

Untuk teman-teman di rumah, ingin mengetahui lebih jauh tentang informasi, artikel edukasi terkait topik nutrisi termasuk tentang kekurangan zat besi dan cara, bisa kunjungi www.generasimaju.co.idyang disediakan oleh Danone Specialized Nutrition Indonesia.

Pada web juga terdapat fitur tes risiko terjadinyan kekurangan zat besi pada buah hati. Diharapkan dapat membantu orang tua mendeteksi kekurangan zat besi pada anak sejak dini dan bagaimana stimulasi yang perlu dilakukan agar dapat mendukung mereka menjadi generasi maju.

Yuk Bersama suksesan Generasi Emas 2045 Indonesia, agar menjadi bangsa yang maju dan mampu beridir tegak di hadapan dunia 😊

16 komentar

  1. Orang dewasa kalau anemia aja berasa menyiksa. Apalagi untuk anak, ya. Bisa menghambat tumbuh kembang dan potensinya. Makanya orang tua gak boleh banget abai tentang kebutuhan zat besi

    BalasHapus
  2. Ternyataaaa, zat besi sangat signifikan ya perannya. Buibu dan pakbapak kudu concern seputar pentingnya zat besi nih. Dalam jangka Panjang akan mengakibatkan penurunan performa di sekolah, kurang atensi atau semangat pada lingkungan sekitar dan perubahan perlaku ekstrim yang cukup mengkhawatirkan.

    BalasHapus
  3. jangan meremehkan jika anak kekurangan zat besi ya, karena dampaknya bisa cukup bahaya hingga ia besar loh

    BalasHapus
  4. suka deh kalau acara begini jadi tambahan informasi dan membuka wawasan, karena banyak orang tua terutama para ibu yang tidak mendapat edukasi seperti ini

    BalasHapus
  5. Saya nih, masih PR banget memberikan asupan nutrisi yang mengandung zat besi untuk anak, harus dikejar lagi biar anak gak kekurangan zat besi

    BalasHapus
  6. Memang deh asupan gizi seimbang buatanak harus diperhatikan sedini mungkin agar tumbuh kembangnya juga baik dan berkualitas. Zat besi tentu banyak dibutuhkan untuk mendukung daya tahan tubuh :)

    BalasHapus
  7. Anemia is dangerous and I believe it is important to ensure that we have enough iron in our system

    BalasHapus
  8. Fathir kelas 5 dan sekarang udah lebih tinggi dari aku nih, di rumah aku jadi yang paling pendek hahaha

    Untunglah sekarang udah era digital jadi banyak diadakan banyak program edukasi kayak gini untuk para ibu yah, dulu pas zaman Kayla dan Fathir masih kecil nyari ilmu seputar gizi kudu modal beli buku, majalah dan baca tabloid ehehehe

    BalasHapus
  9. Asupan zat besi ini penting banget ya mak, apalagi untuk tumbuh kembang anak. Aku tuh kadang bawel banget dengan asupan anak.

    BalasHapus
  10. Baca ini jadi sadar bahwa mencukupi asupan nutrisi anak ini penting sekali, khususnya zat besi. Jika kekurangan, dampaknya sangat tidak baik untuk tumbuh kembang si kecil

    BalasHapus
  11. Ternyata ini peran penting dari zat besi yaa, kak.
    Selama ini aku abai banget, padahal zat besi amat penting bahkan ketika masa hamil. Baru tau banget kalau efeknya bisa jangka panjang.

    BalasHapus
  12. 1 dari 3 balita di Indonesia kekurangan zat besi, sedih ya mengetahui kenyataan ini. Semoga dengan edukasi yang terus menerus, balita yang kekurangan zat besi akan makin berkurang jumlahnya.

    Saya juga suka cari referensi tumbuh kembang anak di webnya generasi maju.

    BalasHapus
  13. Kangen Mak Icoeeeeelll. Halo mak Icoel apa kabar? Makasih sudah berikan sosialiasi dan informasi seperti ini. Zat besi sebaiknya dipenuhi walau kadang nggak dianggap penting :(

    BalasHapus
  14. Kaya ilmu banget baca artikel ini jadi merasa bersalah ketika pertumbuhan anak-anak yang kurang vitamin

    BalasHapus
  15. dulu pas anakku bayi sempat di diagnosa adb mbak, kasian anak jadi lemas
    memang kebutuhan zat besi sangat penting buat anak

    BalasHapus
  16. Sebagai orang tua kita harus memperhatikan asupan zat besi bagi anak, ya. Ternyata kekurangan zat besi memiliki dampak buruk untuk anak. Jadi PR ya, harus perhatian dengan pemenuhan zat besi untuk anak.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar ^_^