#MakanBIjak Untuk Kesehatan Dan Kesejahteraan



“Mudahan puasa tahun ini berat badan bisa turun”

Harapan yang selalu terlintas dalam pikiran saya setiap menjelang atau saat bulan puasa tiba. Bahwa tidak makan dan minum siang hari akan mengurangi jatah makan banyak. Jadi bisa agak turun berat badan. Tapi kenyataannya tidaklah demikian. 

Bahasa gaulnya sih “Niatnya sudah salah duluan”.
Yang namanya puasa ya ibadah, kalau berat badan ikut turun berarti itu hanya bonus. Kesalahan niat ini yang akhirnya membawa sifat orang-orang seperti saya akhirnya justru cenderung tidak bisa menahan diri setelah berbuka.



Kalap, lapar mata, membeli banyak makanan. Membeli banyak bahan untuk dimasak, padahal setelahnya tidak anggup menghabiskan. Baik makanan matang maupun bahan makanan mentah di dalam kulkas yang tersimpan membusuk atau mengering. Hal yang sama juga terjadi saat berbuka di food court atau restoran. 

Padahal satu hal yang harus benar-benar kita pahami, bahwa sesungguhnya tidak ada istilah kekurangan makanan di dunia. Cadangan makanan di dunia berlimpah, hanya saja distribusi dan pola konsumsi yang belum memadai menyebabkan setiap daerah, kota atau negara memiliki masalah berbeda.

Fakta tentang Makan Tidak Bijak dan akibatnya

Kalau soal distribusi, mungkin saya pribadi dan teman-teman bisa menyangkal bahwa itu bukan tanggung jawab kita sepenuhnya. Tapi soal pola konsumsi, ini yang harus kita sadari bahwa kita bisa berkontribusi besar dan mengurangi kemubaziran makanan mulai dari diri kita sendiri.

Fenomena memprihatinkan ini pun menginspirasi Mylanta®, obat sakit maag dari Pt. Johnson & Johnson membuat gerakan “Makan Bijak”. Ajakan untuk makan secukupnya, sesuai kebutuhan kita. Dan yang paling penting, beli juga secukupnya sesuai kebutuhan kita. Pahami benar-benar pola penerimaan tubuh terhadap makanan, terutama di bulan Ramadan.


Dampak dari ketidakbijakan masyarakat mengukur pola konsumsi  diri terhadap makanan ternyata sangat luar biasa. Di DKI Jakarta saja pada 2016 terjadi peningkatan volume sampah hingga 10% hanya dalam waktu 10 hari pertama Ramadan. Dan didominasi sampah organik seperti sisa makanan. 
Bayangkan, makanan yang terbuang sebanyak ini cukup untuk memberi makan berapa ratus ribu anak yatim dan keluarga tidak mampu di Indonesia? 

Bagaimana dengan seluruh Indonesia? Ternyata kita hanya lebih baik dari Arab Saudi alias nomer dua dari bawah untuk kategori limbah dan banyaknya makanan terbuang (Food Loss and Waste). Data dikeluarkan oleh The Economist Intelegence Unit (EIU) berdasarkan Food SustainabilityIndex 2017.
Tentang food loss & waste
Ngeri banget nggak sih membayangkan bangsa kita secara tidak sadar termasuk gologan yang sering memubazirkan makanan. Pencipta sampah makanan yang lumayan besar. Yang berarti juga berkontribusi dalam menyumbang dampak kerusakan lingkungan melalui terciptanya gas metana.

Fakta ini diuraikan oleh para narsum di acara Media Briefieng Mylanta® pada 15 Mei 2018 lalu di Kokta Kasablanka. Ibu Dinda Paramewari, Assistant Brand Manager Mylanta®, Bapak Arief Daryanto, Ph.D. Direktur dan Peneliti Bidang Ekonomi Agribisnis IPB dan Mbak Annisa Paramitha dari Waste4Change yang bergerak di bidang lingkungan.

Secara garis besar ketiga narsum memaparkan tentang makanan yang terbuang sia-sia bahkan sebelum sampai ke masyarakat untuk dikonsumsi. Yang bahkan dalam satu tahun mencapai 1,3 trilyun ton makanan di seluruh dunia.  

Langkah kongkrit Mylanta® dalam mengajak masyarakat #MakanBijak



Pada tingkat produksi, terjadi ‘kehilangan pangan’ (food loss) saat produksi 10%, tahap pengolahan pasca panen dan distribusi mencapai 7%. Saat pengolahan 1%. Kehilangan saat pemasaran 6% dan saat konsumsi mencapai 9%.

Ramadhan yang mindsetnya “Jadwal makan berkurang” justru salah satu periode terjadinya peningkatan signifikan food waste. Ini menunjukan banyak yang tidak bijak saat makan. Padahal dengan makan bijak, kita tidak hanya membantu mengurangi sampah makanan (food waste), tapi juga menjaga kesehatan perut.

Rantang karton unik yang bisa diambil bebas di salah satu sudut Eat & Eat Mall Kota Kasablanka
Karena meski banyak yang membuang makanan karena tidak sanggup menghabiskan, tidak sedikit juga yang berfikir “Sayang membuang makanan” akhirnya berjuang menghabiskan,  namun setelahnya mengalami masalah dengan perut dan pencernaan. Dan ngaku, saya juga salah satu yang sering mengalami hal ini 😢

Saya pribadi sebenarnya yakin kita semua sadar tentang beberapa fakta ini, tapi kadang nafsu dan kalap sesaat terlalu menguasai. Sehingga selalu dibutuhkan pengingat seperti kampanye “Makan Bijak” ini, agar selalu ingat, ingat dan ingat setiap saat. Bukan hanya sepintas lalu saja mengingatnya.

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan sebagai langkah nyata untuk mengurangi tingkat food loss  & waste di Indonesia dari sharing di acara media briefieng bersama Mylanta® : 

  • Mengurangi konsumsi makanan instan yang tidak baik untuk kesehatan dan beralih ke makanan yang diproduksi secara lokal, lebih segar dan sehat
  • Rencanakan dengan seksama sebelum membeli atau belanja. Beli sesuai kebutuhan, tutup mata dan tinggalkan makanan yang tidak baik utnuk dikonsumsi atau sekiranya kita tidak begitu sanggup untuk menghabiskan
  • Masak dengan jumlah sesuai kebutuhan, atau bahasa kesehariannya masak cukup dan habis sekali makan. Sehingga tidak menyisakan makanan yang biasanya sudah tidak menarik selera untuk kita konsumsi saat sudah terlihat dingin dan berubah warna hanya dalam beberapa jam.
  • Simpan makanan dengan baik dan benar, agar dapat dikonsumsi untuk jangka waktu lebih lama.
  • Olah kembali makanan yang tidak bisa kita makan
  • Mulai sekarang ada baiknya pihak restoran mulai menerapkan sistem denda bila konsumen menyisakan makanan. Ya, meski jujur ini pasti sulit, karena biasanya konsumen merasa “Sudah membayar” dan hak mereka untuk menghabiskan atau tidak makanan yang sudah mereka beli. Namun terobosan ini bisa saja akan menarik perhatian dan menjadi pengingat konsumen untuk mengingatkan kesadaran diri masing-masing saat mulai membuka buku menu dan pesan sesuai kapasitas diri masing-masing.


Dan sebagai langkah kongkrit mendukung dan mengajak masyarakat dalam kampanye “Makan Bijak” Mylanta® bekerjasama dengan Eat & Eat menyediakan “Rantang karton unik” untuk bisa diambil konsumen dengan bebas.

Sudah biasa kan melihat orang-orang meninggalkan meja makan di Eat & Eat dan food court dalam kondisi masih banyak makanan tersisa. Banyak yang gengsi untuk membungkus dan membawa pulang. 

Melalui langkah ini, Mylanta® dan Eat & Eat berharap konsumen tidak lagi merasa sungkan atau gengsi untuk “membereskan” sisa makanan yang tidak sanggup dihabiskan untuk dibawa pulang dan dilanjut untuk dihabiskan di rumah.

Tapi setelah saya pikir #MakanBijak tidak hanya saat Ramadhan, tapi wajib diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sepanjang tahun. jadi setelah Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini, mari terus mengingatkan diri sendiri dan orang sekitar untuk “Makan Bijak” 

Karena “Makan Bijak” yang dimulai dari diri kita sendiri akan menciptakan perut yang sehat dan lingkungan yang sehat. Hingga berdampak pada terciptanya ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Karena semua berawal dari kita dan untuk kita, sebagai individu dalam masyarakat. 

7 komentar

  1. Sudah sejak lama kami selalu menghabiskan makanan sampai nggak bersisa di piring Mak Icoel baik di rumah, di food court ataupun di pesta . Biarin aja orang ngelihatnya kayak kita nggak pernah makan karena di piring nggak bersisa. Sebenarnya bkan karena nggak pernah makan. Tapi kita selalu merasa sayang alias mubazir membuang makanan. Sudah sejak dulu juga kami selalu membawa pulang makanan yang tidak habis di food court. Sudah biasa dilihatin orang-orang. Hehehe...Yang penting nggak buang makanan. Pamali alias ora ilok orang Jawa bilang.

    BalasHapus
  2. If you desire to grow your familiarity simply keep visiting
    this website and be updated with the newest gossip posted here.

    BalasHapus
  3. Wahh.. Indonesia peringkat kedua dalam masalah mubazir makanan. Sedih yaaa Mak.

    Aku pun berusaha kalau makan diluar berusaha selalu menghabiskannya, kalau pun berlebih biasanya minta untuk dibungkus, sayang khan soalnya. Heheh

    BalasHapus
  4. Jadi sudah turun berapa kilo selama puasa ikam Coel? :P
    Tapi kapan hari ada promo mesin penghancur sampah organik jadi pupuk, keren kayanya klo punya 1 trus

    BalasHapus
  5. Iya ya... Makan jangan bersisa. Mending nambah daripada ada sisa.

    BalasHapus
  6. AKu udah jarang nyetok cemilan di rumah. Kalau beli pun cepat habisnya lalu berujung penyesalan hahaha.... Yang masih suka kalap itu beli buah atau sayuran. Diolahnya mah kapan, tau-tau udah ga seger lagi di kulkas, terus dibuang. Kan, sayang. Nah, pas pusa gini buatku berat badan ga turun juga. Mungkin karena makan teratur, sahur dan buka nyaris selalu makan nasi :P

    BalasHapus
  7. Aku sering sisa kalau makan, soalnya beli terus tiap hari dan ngak habis.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar ^_^