Jumat, 28 Agustus 2015

Tentang Berbakti Kepada Orang Tua



Ini tentang berbakti kepada orang tua.

Jujur, di saat ini saya sering merenung sendiri tentang “Bagaimana membahagiakan orang tua dengan takaran ‘hampir sempurna’?” *karena sempurna Hanya milik Sang Maha Esa*

Meski jujur lagi, saya tidak pernah tahu takaran hampir sempurna itu seperti apa dan bagaimana. Karena setiap orang pasti memiliki ukuran yang berbeda dalam menilai pas atau tidak. Sesuai atau tidak, layak atau tidak. Setiap orang pasti memiliki standart sendiri-sendiri dan pasti berbeda satu sama lain, termasuk saya sendiri.

Hal ini akan semakin kencang terlintas dalam pikiran saat pulang dari mudik, mengunjungi orang tua. Selayaknya anak yang merantau kami (saya dan suami) selalu berusaha memberi yang terbaik. Dan terbaik menurut kami adalah membawakan oleh-oleh yang layak, memberi materi sesuai kemampuan dan kebutuhan, berlaku baik dan menunjukan rasa hormat. Saling mengakrabkan diri dalam berbagai aktivitas selama berada di rumah.


Tapi ternyata di saat-saat seperti ini orang tua dengan rasa rindunya yang membuncah akan selalu bersedia repot menyiapkan makanan kesukaan kami, untuk ini mereka rela berjam-jam berkutat dengan asap dapur.

Mereka rela Dengan sigapnya menyediakan semua yang kami butuhkan selama berada di rumah. Berjuang menyenangkan kami, berjuang untuk berlaku ideal agar kami bisa merasakan kenyamanan saat berada di dekat mereka. Dengan sigap menjadi ‘pelayan dadakan’ cucunya (anak kami) yang terkadang rewelnya luar biasa meminta ini dan itu.

Dan semua dilakukan atas nama cinta, atas nama rindu kepada anak cucu yang dalam setahun bisa dihitung dengan jari untuk pulang ke kampung halaman dari perantauan. Atas nama cinta kepada kami, mereka tak pernah bisa dilarang dari kesibukan dan menikmati santai serta istirahat.

Tiba waktu pulang kembali ke tanah perantauan, dengan sigap mereka akan menyiapkan semua oleh-oleh balasan. Dengan alasan “Lumayan untuk stok beras sebulan, di sini kami banyak stok hasil panen musim ini”, “Ini kue untuk cemilan ya, di kota ini tidak ada. Ini khas daerah kita” atau “Ini buatan sendiri, kesukaanmu dari kecil. Jauh lebih enak dan sehat serta hemat jajan beberapa hari. Di kota apa-apa mahal”.  

Akhirnya apa yang kami beri terasa tak sebanding dengan balasan pemberian mereka.

Atas nama rindu dan cinta, mereka lupa bahwa sedari kecil mereka sudah merawat kami dengan baik. Penuh kasih sayang dan cinta. Memperjuangkan yang terbaik untuk kehidupan kami.

Hingga kami dewasa dan mampu berkehidupan sendiri, mereka tetap tak pernah surut menunjukan rasa cintanya dengan beragam perjuangannya. Meski kami sudah dewasa, dengan sigap mereka akan tetap ada, terutama di masa-masa sulit. Karena prinsipnya “Anak yang masih kesulitan justru harus disupport lebih banyak agar terus semangat meraih kehidupan dan masa depan lebih baik. Agar bisa sama dengan saudara-saudara lainnya yang mapan dan bahagia”.

Ya, itulah orang tua kami. Orang tua saya dan suami yang selalu membuat kami merenung setiap saat dan bertanya “Sudah jadi anak yang baik kah kami?”.

Dan langsung teringat pepatah yang pernah dilontarkan seorang kawan sesama perantau “Kamu gendong orang tua kamu sampai ke Roma tetap tidak akan bisa membalas pengorbanan dan cinta mereka yang dalam untuk kita sepanjang hayat mereka”.

Ya, saya selalu menyadari itu benar tapi tetap akan terus berjuang menunjukan bahwa kami, saya dan suami serta putri kami juga sayang dan cinta mereka. Meski tidak bisa memberikan yang bahkan ‘hampir sempurna’.


Curahan hati yang tiba-tiba ingin diungkapkan setelah mendapat kiriman 2 buah baju baru dari Ibu saya untuk Alisha. Baju yang menurut Alisha sangat cantik dan disukainya.

42 komentar:

  1. Orang tua selalu memberi yang terbaik ya, hingga anak sungkan juga menerima kebaikan hatinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener banget Mbak, orang tua memang tiada duanya, jadi kangen Alm Ibu saya, : (

      Hapus
    2. Benar mbak, semua yang terbaik sampai kaita benar2 merasa nggak enak...hiks, jadi kangen banget juga nih

      Hapus
  2. aduuhhh mak saya langsung mewek bacanya T___T
    persis seperti apa yang saya rasakan...
    saya juga perantauan (lebih tepatnya suka merantau kali ya hehehe) semenjak menikah saya belum pulang ke rumah ortu di sumatera sana, ya kurang lebih 2tahunan. Tapi 2 tahun itu terasa seperti 2 abad ya, hahaha... kemanpun kita melangkahkan kaki untuk merantau, tetap saja kampung halaman dan rumah ortu adalah tempat pulang yang paaaaliiiinnnggg indah di dunia ini =')
    ah maaf jadi curcol deuh =D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gapap mak curcol dan semoga segera bisa pulang ya ke rumah paling hangat, rumah orang tua <3

      Hapus
  3. Suka terhaaruu mancen, Mbak. Aku kalau ke rumah nenek mesti dibawai oleh2 y macem2 gitu. Marai trenyuuuh. . . Hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, terus yang kita bawa jadi berasa impas dan gak ada apa-apanya ya Dah ^_^

      Hapus
  4. walau kita udah nikah dan punya anak, orang tua masih bersedia direpotkan ya, dan mereka happy

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah orang tua ya mak, yang selalu dan selalu siap happy dengan repot

      Hapus
  5. Sering2 ditelpon atau ditengok mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak Lusi, pastinya, makasih mak

      Hapus
  6. maaak....papaku lgi sakit dan krasa bgt apa yg kt punya gk akan pernah bisa bahagian atopun membalas smua yg pernah mrk beri.hiksss

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, tak pernah cukup ya Vis apa yang kita beri berasa masih kurang dan kurang deh

      Hapus
  7. Bener banget mak, ibu mertuaku juga selalu kasih oleh-oleh banyak kalo kami pulang :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan oleh-oleh kita jadi berasa sangat sedikit ternyata ya mak dibanding pemberian mereka ^_^

      Hapus
  8. Semoga saja nikmat sehat selalu tercurah untuk orang tua kita semua.
    meskipun sudah menikah dan punya anak orang tua pasti tidak akan membedakan porsi rasa sayangnya untuk anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mas Awan, makasih ya dah mampir

      Hapus
  9. Jangan pernah berkata ingin membahagiakan Orang Tua. Tapi niatkan berbhakti kepada orang tua. Memang tidak ada nilai yang sempurna, apalagi dimata manusia. tetapi agama sudah memberikan panduannya. Sederhana dan mudah bagi yang memiliki iman. tetapi akan sulit bagi yang lebih banyak melihat nilai dunia.

    Seandainya kita menilai orang tua salah, beritahu dengan lemah lembut. Rawat Ketika hari tua, ketika beliau tidak bisa apa, bukan materi tetapi perhatian dan perawatan dari anak.

    Ketika ketika berdoa, sayangi kedua orangtuaku sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil. maka kitapun sama, rawat mereka seperti mereka merawat kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. duh tambah terharu deh saya baca komen mas Budi, makasih ya mas sudah mengingatkan. Semoga kita selalu bisa terus berbaikti dengan orang tua kita

      Hapus
  10. wah kalo baca beginian ni, pasti langsung mrebes mili ...

    BalasHapus
  11. Meskipun aku dah gede dan punya anak tapi ortuku dan nenekku juga masih memanjakankuu...huaaa..belum bisa balas apa apa ke beliau beliaunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama makk, pokoknya masih berasa belum memberi apapun ke mereka. Yuk mak, yang penting niat :*)

      Hapus
  12. Persis kaya mamaku mak..kalo pulang musti semua dibawain..lemari es sampe penuh jadi semakin merasa belum bisa membalas kebaikan mereka..ga akan pernah bisa

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku banget juga nih mak, langsung lemari makanan penuh

      Hapus
  13. Balasan
    1. hiks...sini mak meleleh bareng kita :D

      Hapus
  14. Aduh Mak Coel, gak iso komen apa-apa. Aku yang tiap hari tinggal sama orang tua sering berlaku cuek. Apalagi kalau sudah duduk di depan laptop, ngobrol sama orang tua di sambi chattingan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mak Yu, aku ini klo udah depan lapi lupa buat telpon, lupa harus menyapa meski sekedar suara :(

      Hapus
  15. Orang tua (spesial ibu) kayaknya selalu pingin ngasih yang terbaik untuk anaknya ya, padahal anaknya udah berkeluarga dan (mungkin) punya anak juga hehehe. Alhamdulillah rumah kami gak jauh dari orang tua lokasinya, jadi seminggu sekali masih bisa dijenguk :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukurlah mak, karena kalau perantauan kaya kami gini lebih akut rasa galaunya karena tidak bisa membahagiakan setiap hari :)

      Hapus
  16. Samaaaa, kalo pas mudik ortu selalu beliin makanan kesukaanku jadi berasa seperti anak kecil lagi, dan beliin cucu macam2. Pas balik dari mudik, selalu dibawain satu dos besar, isinya tuh sayur2an wortel, kentang , bawang dll, yang di kota tempat tinggalku juga mudah kok didapat, cuma memang mungkin lebih mahal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, kita intinya meski sudah dewasa tetep "anak-anak" bagi mereka ya mak :)

      Hapus
  17. Bikin air mataku netes membacanya. Memang kasih sayang orangtua tiada duanya. Beruntung dirimu masih memiliki mereka mak ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak, tinggal Ibu...itupun jauh pula di tanah seberang :)

      Hapus
  18. iya bener bgt mak..saya udah setua ini masih suka dimasakin makanan kesukaan saya ...duh jadi terharu biru

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiks...sama mak, dan kita adalah tetap "anak-anak" bagi mereka ya

      Hapus
  19. Baca ini jadi tersentuh gitu aku mba :)

    BalasHapus