Jumat, 14 Agustus 2015

Kenali Dan Antisipasi Alergi Sejak Dini

“Ah...tidak apa-apa, ini ganti kulit” ucap orang-orang di sekitar saya saat itu.

6 tahun lebih yang lalu saat usia putri kecil saya baru 2 hari, tiba-tiba di kulit kepala, lengan dan leher baby Alisha saat itu muncul gejala menyerupai kulit melepuh seperti terkena air panas. Melepuh dan berisi cairan bening, paling banyak bagian jidatnya.

Saya yang berstatus Ibu baru, minim pengalaman, minim pengetahuan dan informasi tentang banyak hal hanya manggut-manggut saat semua orang berkata “Ganti kulit”. Maklum, saat itu pada tahun 2009 akses informasi belum sengehits sekarang *cedih*.


#NutriTalk : Nutrisi Awal Kehidupan untuk Atasi Dampak Jangka Panjang Alergi Pada Anak”.



Tapi saat hari ke 3 gejala tidak juga reda bahkan semakin melebar saya pun mulai kuatir. Saat kontrol jahitan ke rumah sakit, akhirnya baby Alisha saya bawa ke dokter anak sekalian. Dan saya sangat terkejut mendapati Alisha dinyatakan alergi susu sapi.

Jadi ceritanya pasca melahirkan ASI saya sangat lancar dan tumpah ruah, tapi puting sangat kecil. Bahkan bisa dibilang tak berbentuk. Sudah diberi Bidan alat penarik tetap susah, karena hanya bertahan sebentar. Baby Alisha yang baru lahir masih belum bisa menyedot puting dengan kuat. Jadi selama menunggu saya “tarik” supaya tidak menangis, saya support dulu dengan susu sapi sebentar.

Tapi karena penasaran, saya tes sendiri lagi di rumah. Saya hentikan susu sapi dan memberinya ASIP. Dan kebetulan hari itu suami yang saya minta beli pompa ASI akhirnya menemukan barang tersebut, setelah 2 hari tidak ngeh juga “Itu barang yang seperti apa ya?”. Saat gejala dikulit hilang, saya kembali memberinya susu sapi 10ml dan ternyata benar, gejala di kulit kembali muncul. Akhirnya saya benar-benar mengerti
.

Foto jidat Alisha saat berusia 2 hari dan muncul gejala alergi, karena minim informasi saya menuruti anjuran untuk memberi bedak sebanyak mungkin untuk mempercepat proses ganti kulit :(


Pada usia 5 bulan, saya penasaran dengan kondisi alerginya. Saya tes dengan memberinya 10ml susu sapi. Ternyata alergi masih “bersahabat” hanya beda dampak. Bukan lagi kulit, tapi pencernaan. Setelah 15 menit kemudian langsung muntah. Karena penasaran, besoknya saya beri lagi 10ml. Kejadian yang sama kembali terulang bahkan meski sudah saya ganti merek.

Tapi apa tindakan saya berikutnya? Ya cukup tidak lagi memberinya susu sapi, tanpa pernah kontrol atau konsultasi apapun ke dokter. Karena saya pikir cukup dengan demikian saja. Apalagi setelah usianya masuk 2,5 tahun ternyata alerginya hilang sendiri. Saat itu saya tes dengan memberinya susu sapi pertumbuhan milik sepupunya. Inilah yang menyebabkan saya menganggap kasus ini “Biasa saja”.

Sekarang, saat informasi sangat mudah diakses saya baru tahu ternyata alergi pada bayi harus benar-benar diperhatikan dan ditangani dengan seksama. Karena dapat mempenaruhi tumbuh kembangnya ke depan.

Dan NUB yang konsisten dalam edukasi dan penyebaran informasi tentang pemenuhan gizi seimbang untuk Ibu hamil, Ibu dan balita kembali menghadirkan #Nutritalk yang membahas “Nutrisi Awal Kehidupan untuk Atasi Dampak Jangka Panjang Alergi Pada Anak”.

Menghadirkan Prof. Yvan Vandenplas, pakar gastroentrologi (bidang saluran pencernaan makanan) dan nutrisi anak dari Vrije Universiteit Brussel Belgia yang menjelaskan salah satu alasannya tertarik meneliti tentang alergi karena kasusunya yang terus meningkat, namun informasi dan pengetahuan yang tersebar masih minim. DR. Dr. Zakiudin Munasir SpA(K), Konsultan ahli alergi – Imunologi dari RSCM.

Prof. Yvan menjelaskan tentang tren peningkatan alergi pada anak di seluruh dunia karena berbagai penyebab dan sudah pasti mengganggu pertumbuhan. Berdasarkan penelitian salah satunya cross-sectional di Amerika Serikat oleh Robbins KA tahun 2014 pada 6189 pada anak 2-17 tahun yang alergi makanan dengan sejarah alergi susu sapi memiliki tinggi badan, berat badan dan Indeks Massa Tubuh lebih rendah dibandingkan yang anak dengan alergi tanpa sejarah alergi susu sapi.

Menurut penelitian, anak dengan alergi makanan dengan sejarah alergi susu sapi dua kali lebih rentan terhadap gangguan saluran pernafasan seperti Asma, alergi rinitis, serta eksim. Alergi sering tidak terdeteksi karena masih minimnya pengetahuan banyak orang, gejala yang tidak spesifik & masih sangat jarang tes alergi susu sapi, sehingga gejala sulit terdeteksi.

Salah satu cara sederhana tes alergi adalah dengan memberi anak susu sapi secara bertahap. Dengan meneteskan beberapa ml ke bibirnya dan tunggu beberapa saat, kalau tidak ada dampak apapun, naikan jumlah susu secara bertahap. Dan amati hhingga sekitar dua minggu.

Dokter Yvan menekankan bahwa penanganan harus tepat dengan memberikan nutrisi dengan indikasi yang tepat untuk menekan tingkat alergi, memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan guna mencegah timbulnya alergi yang lain, serta menekan dampak jangka panjang alergi.

Alergi susu sapi tidak sama dengan alergi susu kambing atau domba. Asam amino adalah salah satu formula yang baik untuk pemenuhan gizi pada anak alergi susu sapi. Namun kendaala harga yang mahal hanya direkomendasikan untuk alergi dengan gejala yang cukup berat. Bahkan di Eropa saja tidak direkomendasikan sebagai pilihan utama.

Rekomendasi utama adalah soya (kedelai) karena memilki formula yang aman. Karena prevalensi alergi susu berbahan kacang kedeai sangat kecil dibanding di antara populasi umum (0,27%), khusus (1,9%) dab anak-anak penderita alergi. Sensitisasi setelah permeberian susu berbahan kacang kedelai pun hanya mencapai 8,7-8,8% berdasarkan penelitian Y.Katz (2014).

Melalui penelitian yang dilakukan oleh Prof. Vandenplas pada 2014 menunjukan ringginya kandungan asam filat dan aluminium pada susu dengan isolat protein kedelai. Kandungan Hb, protein serim, zinc dan kalsium, kandungan mineral tulang pada anak, tingkat kekebalan tubuh juga parameter sistem saraf pengkonsumsi susu kedelai tidak berbeda signifikan dengan anak yang tidak mengkonsumsinya.

Dari sini disimpulkan susu isolat protein kedelai salah satu alternatif aman bagi anak-anak alergi protein susu sapi.

Pada paparan kedua, Dr. Zaki memaparkan tentang tren alergi di Idonesia yang ternyata cukup rendah, satu dari 25 anak alergi protein susu sapi, dengan gejala umum 51,5% ppada pernafasan. 48,7% pada kulit, sisanya 39,3% pada pencernaan dan gejala-gejala lain seperti mata, susunan saraf pusat atau sakit kepala. Untuk anak lebih dari tiga tahun, berdasarkan tes menurut Dr. Zaki paling banyak anak alergi coklat, udang dan kepiting.

Paling tinggi alergi di Inggris. Tapi hal ini tidak lantas boleh membuat kita santai dan tidak waspada karena kecenderungan semakin meningkatnya tren alergi di dunia. Alergi umumnya terjadi karena genetik, lingkungan dan imunologi. Melihat faktor genetik, jadi ingat saya juga memiliki sejarah alergi makanan tertentu meski tidak berat. Rupanya menurun ke Alisha karena saya kurang paham, bahwa ini bisa dicegah dan antisipasi.

Ya, pencegahan bisa dilakukan sedini mungkin. Menghindari faktor pemicu alergi sejak dini. Faktor lingkungan biasanya dari debu, asap rokok, obat-batan (misal antibiotik), makanan, polusi, aktifitas fisik tertentu dan lain-lain. Pencegahan dan antisipasi bisa dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Untuk bayi, ASI penting untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Bagi orang tua yang memiliki sejarah alergi jangan kuatir, yang terpenting tingkatkan pengetahuan tentang alergi, sehingga bisa melakukan pencegahan dini dan tidak menghambat tumbuh kembangnya ke depan.

Meski menurut Dr. Zaki, faktor genetik ada kemungkinan suatu saat, mungkin saat tua autopik-nya (bakat alergi) ada peluang untuk muncul kembali. Namun jika sudah ditangani dengan benar, terutama di 1000 hari masa pertumbuhannya  maka tidak mengganggu masa pertumbuhan.

Pada sesi Q&A terungkap bahwa secara umum alergi protein susu pada anak akan hilang pada usia 3 tahun. Namun untuk tahu bagaimana, sebaiknya orang tua melakukan tes sendiri dengan memberi susu protein sapi secara bertahap dan melihat reaksi tubuh anak. Kalau ternyata masih ada alergi, maka segera konsultasikan ke dokter untuk mendapat penanganan khusus dan lebih lanjut.

Pada dasarnya Dr. Zaki mangaminkan rekomendasi Prof. Yvan bahwa memberikan nutrisi seimbang, menghindari faktor pemicu dan meningkatkan kekebalan tubuh adalah cara yang bisa dilakukan orang tua mencegah dampak panjang alergi pada anak. Termasuk untuk anak alergi susu sapi, bisa menggantinya dengan susu protein kedelai. Karena selain kandungannya mencukupi, harga bersahabat, rasa  juga mudah diterima oleh anak-anak.

Mari menjadi orang tua cerdas dan informatif untuk mengoptimalkan tumbuh kembang buah hati 



Untuk Orang tua, terus tingkatkan pengetahuan untuk pendeteksian dini dan pencegahan. Agar tidak salah diagnosa seperti yang saya alami. Manggut-manggut saja mendengar “Ganti kulit”. Karena sarana informasi sekarang sudah sangat mumpuni. Salah satunya support NUB dengan menghadirkan alergianak.com, web untuk memberikan gambaran tentang alergi anak berdasarkan gejala-gejala yang dialami. Dan hasil diagnosa langsung dikirim ke email kita lo. Disertai saran yang bisa dijadikan acuan. Dan jujur, berdasarkan hasil diskusi kali ini saya sedang bersiap untuk konsultasi ke dokter tentang kondisi alergi Alisha masa lalu. Agar tidak mempengaruhi pertumbuhannya kelak.

24 komentar:

  1. Balasan
    1. Wah, berlanjut sampai sekarang mak? Share dong di blog mak

      Hapus
  2. kalo dari bayi alergi susu sapi apa sampe dewasanya juga terus alergi ya mak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Secara umum enggak mak, 3-5 tahun biasanya hilang, tapi kalau masih berlanjut hingga dewasa, mending di konsultasikan ke dokter :)

      Hapus
  3. padahal bukan bedak ya solusinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak, waktu itu anak ku diberi cairan untuk mandi gitu sama dokter, baru ilang gejala di kulit kepalanya

      Hapus
  4. Balasan
    1. Harus ekstra perhatian brarti klo di luar rumah ya mak

      Hapus
  5. anakku.persis bgt.. pas bayi alergi susu sapi.. tp sy kenalkan.terus.sih.. sama susu.. secara bertahap.. alhamdulillah skrg hilang.. trus bener bgt.. jd merembet ke eksema.. sma mdh.kena gangguan saluran nafas.. skrg anak sy gak tahan dingin.. lgsg batuk sama.nafasnya jd bunyi.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, kasian banget mak. Klo Alisha setelah 2 tahun ga ada gejala apa2 lagi sih, cuma lebih agak ke susah gemuk. Kuatir itu juga dampaknta, maka saya terpikir untuk konsultasi ke dokter mak dalam waktu dekat

      Hapus
  6. alergi memang banyak macamnya ya..di sini tes alergi juga selalu ditawarkan, bahkan wajib bagi pihak sekolah untuk memastikan anak2 selalu aman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu dia mak...di sini belum ada perhatian khusus seperti itu. Kecualisedang sakit dan diopname baru pihak RS lakukan tes alergi, itupun lebih ke tes alergi obat
      Mudahan ke depannya ada prioritas ya untuk hal ini di negara kita

      Hapus
  7. anak saya juga sempat didiagnosisi alergi susu sapi makanya ganti susu kedelai yg muahal, tapi seiring usia alhamdulillah sekarang malah semua makanan masuk aja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu itu Alisha juga dianjurkan konsumsi susu kedelai mak, cuma pada masa itu sulittt nyarinya. Dari Jakarta Timur sampe utara, kami bener2 ga dapat nyari
      Klo skr sudah mayan mudah

      Hapus
  8. wah, saya juga baru tau nih salah satu gejala alergi susu sapi di atas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak, cuma kadang beda anak beda gejala juga sih...yang pasti kita yg harus banyak tahu & waspada :)

      Hapus
  9. #Tanya, Untuk balita usia 2-3 tahun, seberapa banyak konsumsi susu sapi? Anak saya sangat suka minum susu UHT dan suka juga susu formula?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo soal jumlah konsumsi susu sepertinya tergantung kebutuhan tiap anak ya mak...tapi yang utama menurut saya sih asupan makanan bergizi dan susu adalah pelengkap ;)

      Hapus
  10. gejala alergi susu sapi kira-kira sama enggak dengan alergi susu kambing ya Mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa sama, bisa juga tidak mak...krn tiap anak pasti memiliki kondisi yang berbeda

      Hapus
  11. di rumah tidak ada yang alergi susu sih mak, tapi saya kurang suka susu putih, saya lebih senang bentuk olahannya seerti yoghurt, kalau Alfi anak saya suka banget susu putih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas sudah gede gini, anak ku sudah bisa konsumsi semua mak, baik susu maupun produk olahan turunannya seperti yogurt gitu

      Hapus
  12. Aku salah satu orang yang alergi produk susu dan turunannya mak, tapi waktu kecil gak terdeteksi. Jadi berasa parahnya (gatel-gatel, bintik-bintik) justru 3 tahun terakhir ini sampai harus tes alergi segala ke dokter. Tapi tetep aja gak tau penyebabnya apa. Sesudah konsultasi sama dokter Haematolog dan tes darah baru deh ketahuan pemicu alerginya. Panjang perawatan alergiku itu, gak bisa hilang cuma bisa dijaga aja. Ternyata semakin nambah umur imunitas kita berkurang, dihajar susu terus menerus akhirnya tumbang juga pertahanan tubuh.

    BalasHapus
  13. Anak sulungku alergi udang dan kepiting, lidah jadi gatal2 kalo makan itu.
    Kalo anakku yang laki alergi debu, jadi pilek kadang batuk dan asma

    BalasHapus