Sabtu, 30 Januari 2016

Wisata Sejarah di Makam Bung Karno


Suara alunan surat yasin berkumandang merdu dari serombongan orang yang duduk dengan khidmat di depan sebuah pusara. Tidak begitu ramai dan padat, sehingga terasa sekali suasana kekhusukan di sana.

Di sisi lain, ada beberapa orang yang menunggu giliran untuk bisa melakukan hal yang sama. Mereka menunggu dengan tenang sambil menikmati sejuknya angin dingin yang menyapu lingkungan pemakaman yang saat itu diselimuti mendung gelap tanda hujan akan segera hadir menyapa.



Selesai surat Yasin berkumandang, terdengar suara dari sang pemandu lokasi pemakaman dari pengeras suara untuk memberi arahan rombongan berikutnya agar memasuki area pusara. Tak ketinggalan memberi arahan untuk tertib bagi yang ingin keluar dengan melewati pintu belakang.

Ini adalah suasana yang terlihat di Komplek Pemakaman Sang Founding Father  Indonesia Bung Karno pada awal Januari lalu. Pemakaman yang berada di Kota Kabupaten Blitar dan menjadi salah satu tempat wajib dikunjungi bila sedang berkunjung ke Blitar.

Pokoknya serasa belum ke Blitar kalau belum mampir ke Makam Bung Karno.



Masuk ke komplek pemakaman, dari pintu depan langsung disuguhi all abaout Bung Karno. Dari patung beliau yang duduk dengan gagah. Relief pada dinding, menggambarkan sejarah perjuangan beliau. Riwayat perjalanan beliau hingga akhir hayat. Gelar yang Beliau terima dari berbagai lembaga. Semua bisa kita lihat di bagian depan saat akan masuk.

Melangkah lebih jauh, setelah melewati relief masuk ke kawasan pemakaman utama. Banyak pernjual bunga menawarkan bunga tabur untuk nyekar. Untuk masuk pengunjung diminta mengisi buku tamu dan membayar uang perawatan seikhlasnya.



Di pemakaman utama yang dikelilingi tembok tinggi dan kokoh, berpintu gapura khas arsitektur rumah-rumah masyarakat Jawa. Mulai di sini terasa sekali suasana khidmat yang membuat saya cukup merinding.

Karena sedang berhalangan dan menurut keprcayaan yang saya anut, saat berhalangan dilarang mendekat ke area makam maka saya menunggu di teras mushola yang ada di dalam kawasan makam.
Di sekeliling makam berdiri kokoh namun sangat menyejukan pohon yang entah pohon apa yang terlihat dari batang dan akarnya kalau usia pohon tersebut sudah cukup ujur. Namun daun-daunnya terlihat sangat lebat dan menghijau sejuk. Makam Bung Karno sendiri berada di tengah-tengah berpayungkan bangunan kuncup Joglo khas Jawa.



Karena ini makam Pahlawan Pendiri Negara, jadi sudah pasti tak ketinggalan bendera merah putih berkibar di sekitar nisan. Ada tiga makam di kompleks ini, dua makam yang mengapit makam Beliau adalah makam kedua orang tua.

Selesai ziarah, semua diarahkan untuk memutar keluar melalui pintu keluar bagian belakang. Kenapa? Karena sepanjang jalur keluar berderet penjual souvenir khas Blitar. Mulai dari asbak kayu bernuansa coklat, dan souvenir-souvenir cantik berbahan kayu semua ada. Termasuk accesories kesukaan anak-anak, mulai dari gelang, kalung warna-warni.  Pakaian batik khas Jawa, dari uung rambut hingga kaki. Baik untuk laki-laki maupun perempuan. Dan tak tentu saja tak ketinggalan kaos bergambar dan bertuliskan Bung Karno.



Yang menarik dari kompleks souvenir yang berada di bagian arah keluar ini, tempatnya terlihat rapi dan bersih. Sangat nyaman untuk berlama-lama menggalau mau pilih yang mana.

Tapi yang paling penting saat berkunjung ke sini adalah bagaimana kita membentuk pemikiran tentang “Jangan pernah melupakan sejarah”. Karena sejarah adalah cermin perjalanan sebuah bangsa. Dan saya cukup kagum melihat wajah-wajah pengunjung hari itu yang mayoritas terlihat sangat khidmat dan khusuk ikut berdoa. Terlihat penghargaan luar biasa di wajah-wajah mereka.




Mungkin karena hari biasa dan bukan weekend jadi pengunjung tidak terlalu ramai. Dan saya penasaran untuk datang lagi dalam keadaan tidak berhalangan sehingga bisa ikut berdoa di pusara Beliau.

4 komentar:

  1. Aku belum pernah ke sini, mba. Makasih infonya ya. Smoga lain kali bisa mampir ke sini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ke Blitar jangan lupa mampir mak, aura-nya luar biasa loh wisata makam ini ;)

      Hapus
  2. Wah, keduluan Mak Icoel nih. Aku blm pernah, semoga saja bisa kesana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, kebetulan waktunya pas mak jadi bisa menjelajah :D

      Hapus