Minggu, 31 Januari 2016

Foto : Tentang Memaknai Perjalanan

Ketika akhirnya hanya menjadi abu yang dilarung di tengah lautan, tanpa membawa apapun. Hanya amal dan doa 


Kembali tentang memaknai perjalanan. Apa yang kita dapatkan saat melangkahkan kaki se suatu tempat yang bukan tempat tinggal kita sehari-hari. Bukan tempat kita bergumul dan jelajahi setiap hari. Tentu banyak kisah dan cerita yang terkadang sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata, tapi sangat merasuk dalam hati.

Dan beberapa capture ini menggambarkan bagaimana hati saya cukup terpengaruh dan tersentil hingga baper  hanya dengan memandang dan memotret setiap detailnya dari tempat saya berdiri dan menatap.


Menuju tujuan akhir tanpa puja puji atau sorak poularity, hanya doa dan amal 


Tempat Pelarungan Abu

Di salah satu pojok Pantai Popoh yang saya tidak tahu, baru tahu saat bulan lalu padahal saya sudah tak terhitung ke sini ternyata ada sebuah titik penting yang tak sekedar untuk duduk manis menatap debut ombak air . Tapi dua bangunan di tepi laut ini adalah tempat untuk melarung abu jasad yang telah di kremasi.

Betapa kudet akutnya saya, baru tahu ada titik ini sekarang. Di kelilingi rimbun pohon hutan pegunungan, dua bangunan terbuka dan hanya beratap dan tiang besi tanpa dinding langsung menghadap ke lalut lepas. Di bagian tepi ada tempat meletakan hio dan tempat pembakaran dupa.
Apa yang terpikir saat duduk diam di sini sambil menatap laut?

Bahwa hidup itu sebenarnya tentang menuju akhir, semua pasti akan kembali ke pada-NYA. Dan saat kembali, tidak ada yang dibawa, apapun yang kita miliki di dunia semua tidak ada yang dibawa. Kalau umat muslim hanya berbungkus selebar kain putih, kalau umat non muslim inilah salah satunya. Jadi abu kecil yang dilarung ke laut lepas.

Doa yang megiringi 


Dan ini mengingatkan pada kerendahan hati, tentang kebaikan, tentang amal yang akan menemani. Apa yang sudah kita lakukan di dunia untuk dibawa ke “pulang”? harta yang banyak tidak bisa diangkut, kepopuleran juga tidak berarti lagi. Yang adalah “Seberapa baik perbuatan yang kita lakukan selama di dunia?”. Hanya itu!

Nelayan, Perahu Kecil dan Badai Laut

Saat duduk di batu karang di tepi pantai Popoh yang menghadap langsung  laut lepas bagian atas perbukitan Pantai Popoh, saya dan Mak Fadlun melihat pemandangan tentang  “perjuangan”. Pada bulan Januari memasuki musim penghujan, angin laut agak kencang berhembus, sangat terasa saat kita berada di tepi pantai. Jadi kalau ke Popoh sekitar Januari, jangan lupa jaket. karena anginnya sangat kencang. Cuaca pun tidak menentu, meski panas terik dalam sekejap terkadang berubah drastis.

Mengayuh dengan kencang, seakan berlomba dengan waktu


Ombak yang biasa agak kalem juga terdengar garang dan keras saat menghantam batu karang. Di tengah kencangnya air laut yang terus mengehentak dan gelombang yang kencang, kami melihat sebuah perahu kayu tanggung yang jalannya menggunakan mesin. Perahu terlihat seperti ditinggalkan begitu saja. Terus tergoyang, terombang ambing ombak, tapi tidak berpindah posisi.

 Tak lama dari kejauhan 2 perahu kayu kecil di terlihat melaju kencang menerobos angin dan ombak. Terlihat sosok-sosok dalam kedua perahu tersebut  yang ada di dalamnya mengayuh sekuat tenaga seperti sedang berlomba satu sama lain.

Terus melaju saling berkejaran...


Hingga akhirnya keduanya sampai di perahu yang besar dan mereka berdua berpindah ke perahu tersebut. Dua perahu kayu yang mereka kayuh diikatkan ke perahu besar dan mesin dinyalakan. Perahu pun melaju, menghilang dari pandangan kami.

Dan saya langsung tersentuh (ya, saya memang mudah baper kalau melihat yang terkesan melow :P). Saya yakin mereka pasti adalah nelayan Pantai Popoh yang setiap hari kerjanya memasang jala di tengah laut. Tiba saatnya, mereka mengambil perahu dengan jala tersebut untuk dibawa pulang.

Hingga semangat & tanggung jawab mengantar sampai tujuan


Mereka tidak kenal badai, angin kencang. Mereka terus melakukannya setiap hari, karena itulah kehidupan mereka. Kehidupan yang tidak hanya tentang mereka sendiri, tapi tentang keluarga mereka yang butuh nafkah. Tentang kebutuhan orang banyak untuk bisa menikmati ikan segar. Dan ini tentang keihklasan dan kesederhanaan standart hidup.

Bukan tentang kita harus melakukan hal yang sama, tapi mencontoh semangat dan kesederhanaan mereka adalah yang paling utama. Tentang bagaimana memaknai dan menikmati hidup. Bukan juga tentang kepsrahan tanpa usaha, tapi tentang perjuangan bertahan pada posisi masing-masing.


8 komentar:

  1. mereka tidak takut menghadapi badai, begitu juga dengan kehidupan harus tetap dihadapi ya mak

    BalasHapus
  2. Alinea terakhirnya super sekali bu mario ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, jadi Icoel Teguh deh kayanya akuh :)))

      Hapus
  3. Kadang2 kita banyak belajar dari mereka ya Mba..bagaimana memaknai hidup..

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, karena kadang kita butuh melihat yang begini untuk membangun kesadaran penuh atas diri dan rasa syukur

      Hapus
  4. Hidup memang keras... harus pandai-pandai dalam memaknai dan memperjuangakannyaa... ^^

    BalasHapus