Kembali ke TK

Mama kasih kesempatan untuk bisa nari-nari ceria seperti ini lagi yang hanya ada di TK ;)


Tahun ajaran baru sudah berjalan tiga bulan, tapi pertanyaan keheranan yang terkadang dibumbui sedikit penekanan cemooh masih saya terima terkait dengan keputusan saya mengembalikan Alisha ke TK.

“Kok balik ke TK lagi? Kenapa nggak dimasukin saja ke yang siang?”
“Masukin SD Negeri non unggulan juga nggak masalah, dari pada TK lagi. Ketuaan di TK”
“Dari pada balik TK mending juga masuk swasta”

Duh Buibuk, untung saya ini orangnya nggak mudah tersinggung yah. Jadi Cuma dijawab dengan senyum simpul saja. Kalau saya sensian bisa-bisa saya jawab "Urusan saya keles" hehe :D


Di usianya yang masih enam tahun lebih dua tiga bulan, saya memang memutuskan untuk mengembalikan Alisha ke TK. Secara umum, dulu dan sekarang tentu kita ketahui sangat berbeda saat membahas sistem pendidikan di Indonesia. Tapi saya tidak akan membahas hal teknis ya, terlalu ribet dan panjang kalau bicara kurikulum dan sebagainya.

Jadi cuma mau curhat, tentang alasan saya memutuskan ini. Kalau menilik kebiasaan era saya dan keponakan-keponakan saya sendiri, usia enam tahun adalah usia ideal masuk SD. Anak dianggap sudah siap dan sudah cukup besar untuk memasuki usia SD. Bahkan masih lima tahun pun, kalau sudah bisa calistung, banyak orang tua memutuskan untuk memasukan anaknya ke SD. Itu jaman saya, yang tak perlu diungkap ya tahun berapa itu. Nanti ketahuan umurnya :D

Tapi saat ini kondisi sudah berbeda jauh, dulu masuk SD ya tinggal masuk saja. Cukup datang ke sekolah, daftar, dicatat namanya. Masuk deh jadi siswa baru SD. Tidak ada tes calistung atau apapun itu sebagai syarat masuk.

Sekarang semua berubah, era digital tentu harus ikut kekinian dong. Termasuk masalah pendaftaran anak. Beberapa tahun sebelumnya, saat ponakan saya yang sekarang duduk di SMP kelas satu, pertimbangan untuk diterima SD Negeri selain usia juga kemampuan calistung. Meski daftranya online namun pihak sekolah masih turun langsung melakukan tes.

Sekarang, era anak saya tentu beda lagi. Semua seleksi penerimaan murid baru masuk SD Negeri sudah sepenuhnya di handle oleh “Si Online”. Dan murni berdasarkan usiadan tidak ada campur tangan guru sama sekali. Secara otomastis program online memilih pendaftar berdasarkan data yang masuk dan diurutkan dari yang tertua hingga yang termuda.

Dari pengalaman melihat anak-anak teman tahun sebelumnya, saya sebenarnya sudah yakin Alisha yang saat pendaftaran dibuka baru berusia 6 tahun lebih beberapa hari tidak bakal masuk di SD Negeri Unggulan. Dengan usia ini dia bisa diterima SD Negeri non unggulan. Dan sebenarnya tekat saya sudah bulat akan mengembalikannya ke TK. Toh dia masuk TK baru satu tahun, kalau kembali masuk TK berarti dua tahun menjalani masa TK.

Tapi karena penasaran dengan sistem online dan kepo dengan perkembangan penerimaan murid baru saya akhirnya mendaftarkan Alisha. Hasilnya seperti dugaan saya, namanya tidak masuk sama sekali ke sekolah unggulan yang saya pilih. Bahkan hingga pendaftaran gelombang ke 3, nama Alisha tetap tidak nyantol sama sekali.

Tapi dari sini saya jadi semakin yakin 1000% dan merasa keputusan saya sudah sangat tepat mengembalikan Alisha ke TK. Sambil memandangi laptop membaca deretan nama siswa yang diterima, yang mana dalam data tersebut juga terpampang tanggal serta tahun lahir masing-masing anak jadi tahu semua rata-rata berusia kurang lebih 7 tahun. Bahkan ada yang 8-9 tahun juga baru masuk kelas satu SD. Entah apa pertimbangan orang tuanya baru mendaftarkan di usia ini.
Setahun belakangan di TK saya mengamati anak-anak lain dengan rentang usia  kurang lebih tujuh tahun, saya merasa tingkat kedewasaan mereka sebagai anak-anak sudah cukup baik. Sedangkan Alisha diusianya yang baru 6 tahun menurut saya sifat anak-anaknya masih sangat dominan. Saat Alisha membaur dengan mereka di TK, kentara sekali anak saya ini masih sangat imut (alias junior) dibanding yang lain secara sikap dan mental.
Seringkali saya melihat Alsiha tidak mampu mengambil keputusan sendiri saat bersama teman-temannya yang lebih tua ini. Padahal perbedaan usia hanya terpaut minimal 6 bulan tapi perbedaan tingkat kedewasaan sangat jauh.
Kalau saya memaksakan masuk ke SD entah itu yang siang, non unggulan atau swasta saya merasa Alisha masih belum siap. Dia bisa membaca, bisa menulis, namun secara psikologis masih sangat anak-anak dibanding anak yang beda usianya enam bulan ke atas dari Alisha. Dan saya membayangkan dia akan selalu berada di bawah kendali teman-temannya kalau sampai saya paksakan masuk. Secara Alisha memang memiliki sikap “ngekor” terhadap temannya yang bersikap lebih tua.
Karena perimbangan dan pemikiran inilah, saya merasa keputusan saya sudah tepat untuk mengembalikannya ke TK. Buar dia adaptasi lebih banyak dan menjadi lebih siap lagi. Saya juga bisa lebih leluasa melatihnya untuk lebih berani dalam bersikap dan berpendirian lebih kuat.

Kedua soal waktu, bisa saja saya memasukannya yang siang. SD Negeri Petang bahasa resminya, usia yang diterima masih banyak yang seusia Alisha. Tapi saya lebih berat dengan jadwal ngajinya yang bentrok dengan jam sekolah siang ini. Belum masalah kemalasan, waktu kosong pagi hari hingga siang menjelang masuk sekolah sekitar pukul 11-12 kemungkinan besar isinya hanya bermain. Hingga saat waktu sekolah dia sudah kelelahan dan mengantuk duluan. 

SD swasta? Kalau bicara kualitas sekolah swasta saya pikir kita tidak bisa memungkiri akan selalu berbanding lurus dengan biaya. Ada yang murah, tapi juga harus diakui kualitasnya sangat standart. Karena itu saya mengukur kemampuan yang saya miliki. Karena tidak hanya tentang biaya perbulan, tapi juga tentang tambahan belajar di luar jam sekolah. Seperti kursus bahasa dan lain-lain.

Nah, sudah pada tahu kan alasan saya mengembalikan Alisha ke TK lagi? 

15 komentar

  1. Iya sih Mak...kalau jaman sekarang SD negeri emang harus 7 tahun ya.Di komplek saya juga SD negeri harus 7 tahun.Anak -anak pas masuk SD usianya 6,3 tahun si kakak.Dan dulu si dedek 6 tahun.Jadi dua duanya bisa nya masuk SDIT swasta.

    BalasHapus
  2. wah iya ya mak.. kedewasaan anak memang beda-beda.. ibunya harus jeli, jgn sampai sekolah malah membebani anak karena blm siap :)

    BalasHapus
  3. Setuju jg mba.. kerasnya perkembangan jaman sebaiknya memang mengharuskan anak jd dewasa sebelum waktunya. Jd mending ketuaan di tk namun ia akan siap dan lebih matang ketika SD.. keputusan tepat mba

    BalasHapus
  4. Setuju jg mba.. kerasnya perkembangan jaman sebaiknya memang mengharuskan anak jd dewasa sebelum waktunya. Jd mending ketuaan di tk namun ia akan siap dan lebih matang ketika SD.. keputusan tepat mba

    BalasHapus
  5. Peluk mak Sumarti :* :)
    Tak apa mbak, jangan dengarkan cemoohan orang lain. Di tempat saya 7tahun baru bisa masuk SD. Apalagi melihat penjelasan mbak knp memasukkan anak ke TK lagi itu sangat masuk akal.
    Kalau masuk swasta ya memang biayanya yg super sekali, mending ditabung ya hihihi
    Semangat mbak:) biarkan dedeknya main-main dulu di TK

    BalasHapus
  6. Thanks for sharing Mak. Anak saya yg belum 3 tahun aja sering ditanya sudah sekolah atau belum Mak. Dan mungkin someday juga ditanya kok 6 tahun belum masuk SD. Karena kalau thn depan insyaa Allah masuk PAUD, saya dan suami memilih memasukkan anak ke kelompok bermainnya dulu, tidak langsung ke TK. Kalau langsung ke TK berarti lulus TK masih 5 tahun 9 bulan. Saya pernah merasakan mengajar anak kelas 2 yang baru usia 6 tahunan. Meski pintar tapi secara kedewasaan memang njomplang dengan teman2 yang lain. Anak sayapun meski sering dikira sudah TK karena agak tinggi, sebenarnya masih big baby. Semoga di usia 6 tahun 9 bulan anak saya sudah benar-benar siap masuk SD.

    BalasHapus
  7. Iya sih..
    Arya termasuk tua bbrpa bulan kalau masuk playgroup sekarang. Dihitung2, dia juga terlalu tua ntr pas SD. Tp mmg org tua perlu juga lihat kemampuan anak untuk bisa naik ke level selanjutnya.

    BalasHapus
  8. waktu jaman anak saya yang pertama, sdn belum terlalu ketat terima umurnya, banyak kok ibu2 teman sisulung yg mutusin anaknya di TK B lagi ajah gak usah SD dulu..atau bahkan ada yg gak sekolahin anaknya tahun depannya aja lagi...orangtua tau yg terbaik ya buat anaknya masing2...jadi kayanya gak berhak deh menghakimi orang atas keputusan yg mereka buat ya mak...

    BalasHapus
  9. semoga ini keputusan yang tepat ya Mal Icoel... memang lebih baik mempersiapkan mental anak sebelum masuk SD, sehingga ketika anak masuk SD dia benar-benar siap dan bisa lebih konsentrasi dalam belajar. daripada dipaksakan masuk SD padahal anaknya secara psikologis belum siap, ntar malah kasihan sama anaknya

    BalasHapus
  10. Hoho.. Yang penting anak senang yaa mak, yang bisa ngerti anak kita emang kita yah, orang kan gk ngerti :D.


    Semangat ya Alisha :)

    BalasHapus
  11. Thanks sharingnya mak... sekarang Kynan juga masih 3 tahun sih tapi udah aku hitung loh usia dia nanti pas masuk SD hheheee,

    BalasHapus
  12. Anakku beda2 semua umur pas masuk SD, yg pertama usia 7 th 6 bulan, yg nomor 2 usia 7 th pas krn lahir bln juni, yg bungsu 7 th kurang 8 bulan. Dari ketiganya si sulunglah yang terlihat lebih mantap, lebih mandiri dan lebih "dewasa" pemikirannya, memang faktor usia masuk pengaruh juga ya.

    BalasHapus
  13. Masuk SD aja udah kayak daftar perguruan tinggi. Harus ikut seleksi segala. Cuma mau ga mau harus diikuti karena memang tuntutan jaman sekarang. Untungnya pas daftarin anak sulung ke SD unggulan ga pake tes tapi berdasarkan rangking umur saja

    BalasHapus
  14. Ei sih termasuk yg percaya kalo orang tua pasti lebih tau yg terbaik untuk anak2nya :-) .
    Dan juga ei penganut tidak ada salah-benar dalam ilmu parenting, semua tergantung situasi, kondisi, dan tujuan masing2.
    Ei juga penganut pengalaman adalah guru terbaik, tapi kita bisa belajar dari pengalaman orang lain.
    Tfs ya mak, nambah lagi referensi pengalaman buat ei

    BalasHapus