Senin, 22 Mei 2017

Cerita Tentang "Remaja 8 Tahun"

My Girls Generation

Tulisan ini terinspirasi dari postingan makpuh Indah Juli tentang generation gap. Ya, tentang beda generasi antara kami yang jangan ditanya berapa usia, dengan generasi di bawah kami. Yang sebenarnya beberapa bahkan jarak tidak sampai satu dasarwarsa.

Tapi ternyata pola pikir tetap terlihat jomplang banget. Haah...apakah kami yang terlalu tua? Langsung berasa mau nenggak anti aging satu galon. La tapi kan pola pikir tentang otak ya, bukan tentang kecantikan kulit hahaha πŸ˜„

Jadi dalam grup makmin KEB ada beberapa yang jiwanya masih muda banget, macam Icha Steviani :P



Dalam beberapa diskusi yang sering kami lakukan, ada beberapa hal yang memang terlihat sangat jomplang antara pola pikir kami. Tapi karena faktor usia juga, yang tua lebih cenderung untuk “Ya sudahlah ya, namanya beda ya beda” πŸ˜„

Dan saya langsung membayangkan “Bagaimana saya dengan anak saya? Yang hari ini berusia tepat 8 tahun?”. 

Ternyata sangat terasa wow banget, menarik memory saat saya berusia sama, betapa dunia telah banyak berubah (ataukah saya salah satu pelakunya yang nggak berubah jadi terkaget-kaget melihat banyak hal baru? Entahlah!)

Kalau dulu usia 8 tahun, saya dan keponakan masih lari-larian di kebun rumah. Main petak umpet, main boneka dari tanah liat, motong daun-daun yang tumbuh di sekitar rumah dijadikan bahan mainan. Ngobrol dengan orang tua masih dengan nada kalem dan penuh hati-hati. Topik pembicaraan tidak jauh dari belajar, makan, main dan tidur.



Sekarang, betapa sangat terasa obrolan saya dan Alisha, putri saya yang berusia 8 tahun sudah butuh kemampuan komunikasi tingkat ekstra. Pola pikir yang lebih update dengan berbumbu kesabaran yang lebih besar. Merangkai kata sebaik mungkin tanpa terkesan ketus, menggurui tapi tetap dipahami dan bisa diterima, meski jujur sering gagal.

Ini adalah tentang berkomunikasi antar generasi πŸ˜‚


Ya, saya bukan Ibu yang banyak kalem dan banyak sabar, sadar-sesadarnya terkadang masih banyak berteriak dan agak meninggi intonasi nada bicara.

Namun secara keseluruhan, secara alamiah saya sadar bahwa dituntut untuk lebih update, lebih pintar dan lebih canggih lagi dalam segala hal agar tetap bisa memandunya bertumbuh kembang. 

Tentu akan timbul pertanyaan, obrolan dan percakapan, komunikasi dan interkasi seperti apa yang sering membuat saya cukup syok dan butuh tenaga ektra untuk berpikir? 

“Mama, Icha boleh mewarnai rambut?” doeng...langsung muter mata sampai otak buat merangkai jawaban. Nggak mungkin kan jawabnya “Mama aja sampai 30 tahun lebih hadir di dunia nggak pernah mewarnai rambut atuh nak!!!” hahahahaa πŸ˜ƒ

“Mama, tolonglah buatkan Chanel Youtube Alisha, biar bisa tampil di video sambil bilang ‘jangan lupa share, subcribe dan like ya’” dan langsung berfikir keras buat belajar bikin video. Padahal mama aja masih gaptek dan nggak niat-niat amat mikirin chanel youtube, berat nak...berat membuat dan ngelola kontennya. Tapi demi kamu, mulai sekarang belajar bertahap pelan-pelan.

“Mama, jangan samakan Icha sama kaka (sepupu), dia ya dia, Icha ya Icha” duh...mama padahal yang belajar tentang “Jangan membandingkan anak satu dengan anak yang lain” saat kalimat ini terucap darimu, maka yang ada “Duh, salah kali ya tadi kalimatnya saat ngobrol dan komunikasi. Kok jadi dia merasa dibandingkan? Okey, mari belajar lagi”

“Mama, kenapa mama bekerja? Padahal tadi di TV Icha lihat katanya yang bekerja itu hanya Bapak?” langsung mutar otak lagi mikir, nggak mungkin kan dijawab “Mama butuh eksis sayang” hahahaha πŸ˜‚

Sekali lagi, Happy B'day nak, selalu jadi anak hebat dan bahagia πŸ’—


Karena sebenarnya selama ini saya memang tidak bekerja, hanya freelance yang sesekali keuar dan pamit pada anak “Mama kerja dulu ya”. Bahkan meski sekedar kopdar gaje bareng teman, ijinnya juga tetap “Mama kerja ya”. Biar mudah dan praktis πŸ˜ƒ

“Ma, umur berapa Icha boleh nonton konser?” Dan saya balik nanya “Memang kamu tahu konser itu apa?” dia senyum tengil sambil menggeleng. Ya Tuhan, jawaban dan penjelasannya harus double (mulai lelah).

Dan obrolan paling epic yang pernah terjadi belakangan adalah “Mama dan Bapak milih siapa? Ahok Djarot atau Anies Sandi? Jawab yang jujur, nggak boleh bohong, Icha mau tahu!” ya ampun nak...bahkan mama saja kalau nggak benar-benar gatal jari dan butek pikiran, untuk saat ini dan detik ini tidak terpikir buat ikut nimbrung keramaian ini, kenapa kamu mesti nanya hal ini coba? Dan akhirnya mati-matian menerangkan “LUBER” yang diapun cuma bengong mendengarnya, entah paham atau tidak 😏

Dan dalam dua hari ini, ada lagi pertanyaan dan permohonan yang bikin gemas “Mama, kan ini tanggal 21 mei, Icha ulang tahun. Mama mau kasih kado apa?” 

“Mama kasih cinta, kasih sayang dan do’a saja sudah cukup” kekeuh mengajarkan kasih sayang. 
“Kado kan barang ma, bukan cuma do’a dan kasih sayang. Pokoknya beli barang ya, kasih barang ya. Kostum Barbie, tablet, slime, squisy besar. Apa aja, pokoknya barang”

“Enggak, mama nggak mau, mama cukup kasih do’a dan cinta yang banyak. Kalau mau beli saja sendiri pakai uangmu yang dikasih mbak Lala, Dade atau Tante Vema. Cukup mah itu buat beli kostum, squisy atau slime” Melakukan pembenaran diri untuk alasan “Mengajarkan makna ulang tahun yang lebih baik” dan tentu saja juga plus misi “Malas membelikan mainan itu lagi itu lagi, yang ujung-unjungnya rusak dan jadi sampah. Sudah cukup perkenalannya pada squisy, slime dan kostum barbie”

Hingga akhirnya terjadi kesepakatan “Ya udah deh, ngajak teman dekat aja ke kaefci Sunter, tapi naik mobil ya ma”. Ya, pada akhirnya saya tahu “Remaja 8 tahun” saya ini dari dulu memang setia kawan dan sangat cinta pada sahabatnya. Kalau ada pilihan antara “Sahabatnya dan yang lain” maka sahabatnya tetaplah yang utama. 

Dan saya penasaran kalau suatu hari muncul pilihan "Mama/Bapak & sahabat" segalau apakahnanti dia πŸ˜”

Namun dari semua ini, pada dasarnya satu hal yang saya pelajari dan yakini bahwa setiap generasi membawa kisah, cerita dan takdirnya sendiri. Yang paling penting adalah bagaimana kita, saya terutama selaku orang tua menyesuaikan diri dan membangun kesadaran penuh bahwa “Kami berbeda”.

Dunia dan era kami memang memiliki gap yang butuh pikiran dan tenaga ekstra untuk memahami dan menyesuaikannya. Namun tetap bagi saya tak keluar pada prinsip standart kebaikan yang berlaku, sesuai dengan adat, budaya dan keyakinan yang selama ini diyakini dalam lingkungan tempat tinggal. Semacam tetap menganut “Di mana berpijak, di situ bumi dijunjung”.

Bahwa “anakku bukanlah anakku” sampai kapan pun memang terus berlaku. Dalam artian, saya memang melahirkannya, tapi dia memiliki era sendiri, memiliki pola pikir sendiri, dunia sendiri yang tentu berbeda dengan dunia saya. Namun tetap saya akan menanamkan prinsip "Saya selaku orang tua memiliki kewajiban mendampingi pertumbuhannya sebagai tanggung jawab telah dipercayai dititipi kehadirannya".

Dan sebagai anak, juga memiliki kewajiban yang sama membangun kesadaran akan suatu hunbungan timbal balik "Bahwa mama dan bapak adalah yang dipercaya menghadirkan ku ke dunia" sehingga memiliki kesadaran untuk menghargai satu sama lain.

Meski ke depan sudah pasti akan ada pertentangan, karena akan selalu ada “Baik bagi saya belum tentu baik menurut orang lain, benar menurut saya, belum tentu benar menurut orang lain". Dan pertentangan-pertentangan lainnya. Dan ini tentu juga berlaku antara saya, suami dan buah dan buah hati.

Dan ini adalah PR banget bagi saya dan suami sebagai orang tua di era milenial (tapi lahir tahun jadul) dalam mendapingi tumbuh kembang “Remaja 8 tahun” kami. 



Namum apapun, sekali lagi “Selamat mengulang hari lahir ya Nak, selalu jadi anak hebat dan bahagia”

9 komentar:

  1. Ichaaaaa.... wahh udh 8 tahun, selamat ultah syg. Sini main ke rumah tante... nanti tante belikan kado :))

    BalasHapus
  2. Kamu belum pernah ngerasain kalo Icha dah gede doel... Nti pasti kamu mau dia balik lagi ke anak2 degh... wkwkwkwkwkw... Pengalaman aku ke Cita.. bhuhuhuhuh... Skrg dah jadi remaja dan gadis... susah diunyel unyel nya.. eh :P Happy Burpday my dear Icha.. Muach.. Muach...

    BalasHapus
  3. Anak cerdas 😊

    Selamat ulang tahun, Icha dear. Semoga selalu bahagia dan tercapai semua cita-citanya 😘

    BalasHapus
  4. Aku komen apa ya? *kemudian dijitak* Duh itu pertanyaan Icha kalau dikasih aku, bisa-bisa lapar jadi ilang karena mikirnya ekstra. Tapi bikin nyengir kalau jadi penyimak hahaha... Aku baru sekali ketemu Icha dan pengen ketawa liat kalian ngobrol *kabuuur...*

    BalasHapus
  5. Beda 2 tahun sama anakku Mak Icoel, butuh ekstra sabar menghadapinya.

    BalasHapus
  6. Aamiin.. jadi mama pilih Anies atau Ahok, ma? Luber apa ya? Lupa lagi #halah

    BalasHapus
  7. Selamat ulangtahun Mba Icha yang ke 8 tahun. Makin pintar dan bahagia ya serta jadi anak yang dilindungi oleh Allah.
    Mau aku tiru ah kalau mau ke warung trus ditanya "Ummi mau kemana?". Ummi mau kerja. Ummi kan juga butuh eksis. Hahhahaa

    BalasHapus
  8. Senyum-senyum sendiri baca postingan ini :D. Duh, Ichaaaa... hehehe. Selamat ulang tahun ya, nak. Mwaaach ;).

    BalasHapus
  9. Ichaaaaaaa semoga sukses dan bahagia dunia akheraat yaaak
    Makasiy udah jadi fotografer kece pas tante Nurul kopdar di Sby :)
    Kindly visit my blog: bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus