Nostalgia Perantau, Edisi Mall Mewah



 
Car Free Day Bundaran HI (foto Lovema)


Salah satu hal menyenangkan jadi seorang blogger adalah saat bisa hadir di banyak kegiatan offline alias kopdar.

Dari kegiatan ini aku yang perantau di Jakarta jadi tahu banyak tempat yang selama menjadi warga Jakarta belum pernah sekalipun aku datangi. Mulai tempat unik, tempat mewah hingga tepat-tempat sederhana tapi penuh inspirasi.

Dan terkadang hal itu membuat kenanganku malayang pada peristiwa beberapa tahun lalu saat baru saja menjadi warga Jakarta. Kenangan seorang perantau.

Sebelum memutuskan merantau ke Jakarta, aku tinggal di Surabaya salah satu kota Metropolitan Indonesia. Sehingga merasakan hiruk pikuk kota dengan segala atributnya sebenarnya sudah biasa untukku. Seperti keluar masuk mall besar untuk sekedar cuci mata juga sudah biasa. Tapi siapa yang bisa menyangkal, kalau aura Jakarta tetaplah berbeda jika dibandingkan dengan kota Metropolitan lain yang ada di Indonesia?

Gedung mewah dan tinggi di Jakarta yang keberadaannya seolah akan merengkuh langit merupakan salah satu aura khas Jakarta. Mall-mall bertebaran di mana-mana. Mulai tempat perkulakan hingga tempat menghabiskan uang para kaum borjuis untuk sekedar memenuhi hasrat yang timbul karena lapar mata. Semua memberikan aura yang berbeda. Karena status Jakarta sebagai Ibu Kota Negara, Pusat Pemerintahan, Pusat Ekonomi, membuat auranya memang sangat berbeda dengan kota metropolitan lain yang ada di Indonesia. Dan aku yakin, semua oang merasakan hal tersebut.
Beberapa teman dan saudaraku  yang pernah berkunjung ke Jakarta untuk sekedar jalan-jalan dan liburan adalah beberapa kalangan yang mengakui “kemegahan” Jakarta dengan segala isinya meski di daerah masing-masing mereka tergolong gaul dan pelaku lifestyle moderen.


Beberapa bulan pertama sejak merantau ke Jakarta sekitar pertengahan 2006 aku mengirim banyak lamaran kerja melalui lowongan yang dimuat di halaman surat kabar ibu kota. Dan dari beberapa yang aku kirim ada sebuah panggilan tes untukku. Aku ditelpon oleh sebuah perusahaan multi nasional yang belakangan menjadi bom berita di media karena tersangkut kasus KPK.

Karena alamat yang digunakan PO BOX maka awalnya aku tidak tahu itu perusahaan apa. Dan untuk posisi administrasi yang aku lamar, ternyata persaingan dan seleksi cukup ketat. Untuk memperebutkan posisi tersebut sekitar 100 pelamar harus bersaing melalui 4 tahapan tes.

Nah, saat itu untuk pertamakali aku menginjakan kaki ke Jakarta Pusat. Aku sendiri berdomisili di Condet Jakarta Timur. Saat ke PT. Masaro untuk tes aku diantar suamiku yang saat itu statusnya masih kekasih. Kami sama-sama masih buta kawasan Jakarta. Dan untuk mencapai alamat ini kami bertanya berpuluh kali pada banyak orang. Meski sudah bertanya pada kondektur bis yang kami naiki ternyata kami tetap nyasar.

Selesai tes sekitar pukul 14.00 WIB aku berjalan berdua. Dan lagi-lagi bingung harus naik apa untuk kembali ke Condet. Karena berangkatnya pagi dari rumah saudara suami di Ciledug. Akhirnya aku dan suami berjalan berdua dari Dukuh Atas sampai arah bundaran HI. Sambil bingung soal jalan, kami ngobrol tentang  Bundaran HI, perkantoran, hoetel dan mall yang mengelilingi Bundaran HI . Isi pembicaraan? Tentu saja tentang kemegahannya dan mebandingkannya dengan beberapa mall di Surabaya yang pernah kami datangi. Dan intinya tetap harus mengakui, aura metropolitannya Jakata sangat berbeda. Ya ampun...udik banget deh J


Sampai di sekitar bundaran HI, berdua memandang sekeliling dan melihat Plaza Indonesia dan Grand Indonesia. Bahkan kami sempat berhenti membeli minuman di pedagang asongan yang mangkal di sekitar Bundaran HI. Saat menikamti minuman tersebut sambil istirahat, sempat terlontar dariku ajakan "masuk yuk lihat-lihat" tapi suamiku langsung menolak dengan jawaban yang cukup menggelikan bila sekarang diingat kembali "gila, itu lihat yang masuk bening-bening semua! Kita berdua kumal bau keringat, yang ada nanti jadi lirikan orang" jawab suamiku sambil menunjuk beberapa orang yang terlihat lalu lalang di lobi Plaza Indonesia yang rata-rata terlihat berpenampilan mewah dan glamour.

Aku sempat memaksa, tapi suamiku juga kukuh menolak dan berkata "suatu saat pasti bisa kesana, percaya deh, tapi jangan sekarang! Malu kalau jadi lirikan orang karena kondisi kita yang kumal dan amburadul" jawab suamiku tegas.

Kami berdua memang sudah lumayan kucel dan berkeringat. Berjalan di bawah terik matahari dan tertempa debu yang bertebaran. Bau keringat sudah tidak karuan menyengat. Akhirnya dengan terpaksa aku menuruti saran suamiku dan kami melanjutkan berjalan ke depan The Plaza dan melihat seorang Polisi yang sedang main HP. Kami bertanya arah jalan dan bis atau metromini nomer berapa yang harus kami naiki bila akan ke Condet.

Itu kenangan yang tak terlupakan untukku. Secara tidak langsung, suamiku menjawab saat itu bahwa "kita terlihat "nggembelisasi" diantara para pengunjung lain, jadi tidak usah saja masuk" hahaha...

Dan kenangan itu terlintas di kepala saat beberapa saat lalu aku bersama MakPon Mira Sahid dan MakPuh Indah Juli berjalan di dalam Plaza Indonesia setelah selesai meeting dengan salah satu sponsor KEB. Aku sudah benar-benar berjalan di dalam tempat yang dulu terlihat sangat mewah dan seolah tak tersentuh oleh seorang perantau unyu seperti aku. Dan rasanya? Biasa saja, suamiku sepertinya saat itu agak berlebihan hahaha...

Tapi terlintas juga dalam pikiranku, mungkin  inilah yang dimaksud suamiku saat itu. Berada di tempat ini dengan situasi yang pas dan elegan. Tidak terlihat “lucu” alias cenderung ke arah “udikisasi” hehe…

Dan keberadaanku saat itu juga bukan pertamakalinya di Plaza Indonesia yang kawasannya langsung terintegrasi dengan The Plaza dan EX Plaza. Sudah tak terhitung aku menginjakan kaki ke kawasan mall mewah di sekitar bundaran HI. Dan semua karena statusku sebagai seorang blogger.


Tapi bila ingat kenangan tahun 2006 tersebut aku selalu merasa geli. Sambil berpikir "apa yang terkesan menakutkan dari PI dan GI saat itu ya? Kok sampai aku menurut pada larangan suamiku untuk masuk?" 

Dan saat aku melewati kawasan tersebut dari Dukuh atas hingga Bundaran HI bersama solmet gagalku si Lovema Syafei dan ku ceritakan pengalaman tersebut, dia malah ngakak. Huedeh...sambil bilang "lugu banget sih kalian berdua".


Tapi itulah kenangan hidup, kenangan mengharukan tapi juga lucu. Dimana, di saat tertentu pada suatu waktu aku pernah mengalami hal yang cukup "udikisasi". Hihihi…

Dan itu cukup menjadi pelajaran dalam jalan hidupku, bahwa semua hal kadang harus sesuai pada tempat dan tepat situasinya supaya kita mendapatkan hasil yang maksimal.
Salam Inspirasi

22 komentar

  1. Dan itu cukup menjadi pelajaran dalam jalan hidupku, bahwa semua hal kadang harus sesuai pada tempat dan tepat situasinya supaya kita mendapatkan hasil yang maksimal.

    ------------------


    setuju yang ini...
    btw, kalau ama suami cerita jaman dulu sambil nostalgia pasti seru dan romantis... eaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    BalasHapus
  2. Andai ada fotonya wkt itu mak icoel dan suami... :) eh surabaya kan kota metropolis mak.. Kota terbesar kedua stlh jkt.. Aku hidup di surabaya 6 tahun. Haduww.. Sampai bosen mall... Qqqq... Plg kerja dolannya ke mall.. Yah krn pergaulan teman2 aja krn wkt itu msh ngekos.. Abis kerja gak ada kegiatan.. Apalg tmp kerja pertamaku dekwt dengan mall terbesar jaman itu.. TP alias Tunjungan PLaza.. Kalo gak makan yah nonton.. Ato gak ke tk buku.. Dan makan es krim Monchery.. Ha.. Akhirnya aku ingat... Tempat eskrim itu lg.. Hahaa.. Ayo kpn mudik brg mak? Kalo surabaya tempat mertuaku... Kita ntar bisa keliling nostalgia lagi nang suroboyo.. Heheheskrg suroboyo sy rasa kebanyakan mall yah mak..dari awal masuk suroboyo-bunderan waru sampai pucuk suroboyo ono mall kabeh :( sg plg gede skrg katanya Pakuwon City yah.. Dulu kalo gak Tunjungan PLaza.. Yo Delta.. Ikuuu ae muter e hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. walah...ketemu wong Surobyo jeeeh, merdeka #eh

      Hapus
  3. isshh...kereeen amat itu jabatan blogger, nyampe bs keluar masuk PI :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. husttt...jangan kenceng2 mak, nanti banyak yang melamar jadi blogger hahahaha :P

      Hapus
  4. Mak, udah pernah coba belum jalan berduaan dengan suami ke The Plaza? Pasti kalian akan ngakak mengingat kenangan masa itu yaa?

    Setuju banget dengan kalimat ini, Mak, "..., semua hal kadang harus sesuai pada tempat dan tepat situasinya supaya kita mendapatkan hasil yang maksimal."

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha...belum pernah mak, pengen sih melakukannya :P
      makasih sudah mampir ya

      Hapus
  5. Mak icoel.. Sptnya aku br sadar kalo aku salah fokus deh hihi.. Maaf yee.. Kalo bs hapus aja komenku td.. Gak tau deh tiba tiba setelah baca cerita mak icoel ini ada kata surabaya sbg kota metropolitan ke2 itu.. Aku lgsg ingat segalanya ttg suroboyo.. (maklum byk kenangan disana - cieee) Hduwww.. Hapus aja deh mak.. Malu aku jadinya... Tp ttp aja pertanyanku : postingannya itu dilengkapi dg foto sm suami wkt itu lbh mantabb mak... :)

    BalasHapus
  6. hahha..aku kok guyu sambil merinding disko gitu deh mak ... wkwkkwwk

    BalasHapus
  7. gembel2 tetep eksis tho Mak....hahahahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha...betul itu, eksis is number one :P

      Hapus
  8. Waaah, mantap ya.. Jadi blogger bisa menanggalkan udikisasinya menjadi kerenisasi doong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha...betul itu mak, tapi udiknya kadang belum ilang :P

      Hapus
  9. Waktu ke Jakarta, aku takut, Mak. Soalnya katanya pengamen di sini pada "kreatif", ada isu Kapak Merah, dll. Ga tahunya, pas nyampe sini, katanya orang Jakarta yang malah pada takut sama orang Medan wkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha...Medan di lawan, ya seng ada lawan :P

      Hapus
  10. Aku kalau ke mall masih pede mak, meskipun aku jarang dandan & bajuku itu2 aja. Yg gak pede itu masuk restoran mewah. Dari tampilan depannya aja, aku bisa langsung bilang enggak, meskipun ternyata harganya sama aja kyk franchise spt KFC atau McD

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha...la restorannya di dalam mall ik mak :P

      Hapus
  11. hihihi kebayang wkt masih merasa grogi masuk mall Jkt :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan dibayangin mak, malu jeehh hahahaha :P

      Hapus