Jumat, 27 November 2015

Kisah di Balik Gedung Mewah Jakarta


Nguprek koleksi foto yang ada di folder laptop, saya jadi sadar ternyata sangat hobi memotret gedung-gedung tinggi di Jakarta. Tentang gedung tinggi di Jakarta yang melambangkan kemapanan. Dan sebuah foto selalu menggambarkan banyak cerita. Termasuk foto gedung-gedung tinggi ini, yang mengingatkan saya tentang pola pikir, imajinasi, harapan dan kenyataan dari sebuah “Gedung tinggi yang terlihat megah”.


Gedung pencakar langit, itu istilah kerennya. Sebagai salah satu kota Metropolitan dunia, tentu Jakarta adalah gudangnya gedung pencakar langit. Saat baru-baru saja tinggal dan merantau di Jakarta, setiap di dalam bis umum dan melintasi kawasan Sudirman Thamrin, ada rasa yang berbeda saat menatap gedung pencakar langit yang berderat di sepanjang jalan utama Ibu kota ini dari balik jendela bis.


Meski lahir dan pernah tinggal di Surabaya tapi perasaan berbeda saat melihat deretan gedung-gedung tinggi di kawasan utama Ibu Kota, tetap memberikan rasa yang berbeda.

Pernah ikut mengadu nasib dalam sebuah tes kerja di kawasan Thamrin, seolah memberi pemikiran sendiri bahwa gedung pencakar langit di kawasan Sudirman Thamrin adalah simbol kesuskesan, kemapanan dan kemewahan.

Kantor-kantor utama banyak perusahaan terkemuka, Instansi swasta dan Negara, mall mewah dengan merchant-merchant populer dan langganan sosialita ada di dalam gedung-gedung pencakar langit ini. Inilah yang mungkin menimbulkan gambaran dan rasa tersebut.

Seiring waktu, akhirnya saya menjadi bagian dari gedung-gedung pencakar langit tersebut. Menceburkan diri dalam hobi blogging, membuat saya banyak kesempatan masuk dan menginjak banyak gedung pencakar langit di Jakarta.

Akhirnya membuka mata saya bahwa hidup itu beraneka warna. Bahwa tentang apa yang ada “di dalam” tidak melulu seperti yang terlihat di luar. Begitu pun tentang gedung pencakar langit.

Memang benar, banyak kemapanan di dalamnya. Tapi yang sebaliknya juga banyak. Bahwa dalam mall mewah di kawasan Thamrin, banyak pembeli dengan pakaian wah mentereng, tapi juga ada pekerja kalangan menengah bawah di sana.

Mereka terkadang ramah dengan senyumnya menyapa dari balik pintu toilet. Namun di saat tertentu mereka tidak tersenyum sama sekali. Yang mungkin karena larut dalam kelelahan. Ada juga yang menjawab ramah setiap pertanyaan dari balik meja menchant coffee terkenal dan populer. Di lain waktu kita bisa melihat beberapa dari mereka selalu melirik jam tangan, menunggu waktu pulang setelah lelah menjalani shif malam.

Banyak yang cantik dan menawan dengan blazer dan kemeja berbalut  jas elegan, dengan name tag perusahaan multi nasional hingga internasional. Tapi tak sedikit pula yang terpekur dalam lembar-lembar hitungan stok barang dagangan di counter mereka. Menghitung perkiraan bonus yang mungkin didapat dari penjualannya.

Ya, sebuah gedung pencakar langit yang terlihat kokoh, seolah ingin menunjukan pada langit luas mereka memiliki ‘kuasa’ menyimpan banyak cerita berwarna. Tidak hanya tentang mewahnya saja, tidak hanya tentang kokoh dan kuatnya saja. Itu hanya sekedar sawang sinawang kalau kata orang Jawa.


Dibalik kokohnya gedung pencakar langit Jakarta, yang pasti hanya indah untuk dipandang dan dipotret saja. Tapi tidak untuk diasumsikan dengan hal sama rata tentang yang indah-indah saja. karena gedung itu tetaplah bagian kehidupan manusia yang beraneka warna.

8 komentar:

  1. Aku pusing lihat gedung tinggi hahaaa.... Seluruh kemewahan yg harus dibayar mahal dg kerja keras.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan dongak makk kalau liat :))
      yup, kadang butuh kerja yang sangat keras untuk menikmati kemewahan

      Hapus
  2. hi hi jadi inget dulu cita2nya abis lulus kuliah kerja di gedung tinggi pakai baju keren mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya itulah impian banyak pemuda pemudi mak, termasuk kita saat jaman muda mudi hehe :D

      Hapus
  3. Coooel, jadi inget waktu wawancara kerja zaman baheula, pertama kalinya ke gedung tinggi2, keluar lift mukaku aseli pucet, smp mbak2nya khawatir aku pingsan huahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Napa pucat? Takut sama yang tukang wawancara ta? :P

      Hapus
  4. aku selalu ingat gedung tinggi, soalnya dari dulu sampe sekarang kerjaannya cuma keluar masuk gedung tinggi -_____-

    BalasHapus