Jumat, 30 Oktober 2015

Trip Dua Krucil Kuat

Entah ya, ini anak siapa hahahaha :))


Masih tentang jalan-jalan ke Bromo. Tapi kali ini saya mau sedikit cerita tentang duo krucil yang ikut serta trip ke Bromo, Alisha dan Rafa.

Sebelum berangkat ke Bromo sebenarnya kami emak & bapaknya, juga Kris emaknya Rafa sempat terbersit rasa kuatir dengan dua bocah gasing ini. Kuatir dengan kondisi fisiknya, kuatir kesehatannya. Secara yang tua aja rasanya badan kaya hampir mau roboh. Kalau sudah begini baru deh ingat angka umur *ngakak kece*.


Kenapa kuatir banget? Sebelum ke Bromo, Alisha sudah saya geret ke sana sini. Dari Jakarta ke Jawa Timur yang perjalanannya luar biasa menguji fisik, silaturahim menempuh perjalanan dari Bojonegoto, Ngawi, Sragen dengan motoran saja. Sedangkan Rafa sendiri baru sembuh dari sakit saat digeret emaknya ke Bromo.

Kontras banget sama emaknya yang masih kedinginan, meski sudah agak siang :D


Jadi sebelum pergi kami benar-benar menyiapkan dengan seksama semua keperluan dua bocah ini. Seperti makanan dan minumannya, pakaian hangat dari ujung rambut hingga kaki, minyak kayu putih, sampai cemilan saja kami batasi apa yang boleh dan tidak sebelum perjalanan ke Bromo.

Dan bagaimana kelanjutan kisah dua bocah ini setelah sampai di Bromo? Luar biasa, kekuatiran kami berangsur menghilang sirna melihat tingkah keduanya. Mulai sejak malam menjelang subuh yang diselimuti dingin menggigit tulang, Alisha dan Rafa tidak begitu terpengaruh. Saat dalam Jib dan menempuh perjalanan dua jam, mereka sempat tidur sebentar.

Begitu sampai di kaki Seruni, mereka mulai unjuk gigi. Dari naik kuda hahahihi, lari-larian penuh semangat saat mendaki ke puncak yang lumayan curam. Sesekali bilang capek sih pasti, sampai si Rafa harus digendong sebentar sama mas guidenya. Selebihnya semua benar-benar luar biasa aman.

Saking amannya, kami harus membiarkan mereka anteng bermain pasir di pucak Seruni. Ya, saat saya berdesakan berebut spot terbaik untuk mengambil foto matahari terbit, mereka anteng mengaduk pasir dengan tangan mereka.

Di mana ada pasir, di situ ada keceriaan :))

Saat turun ke Bukit Batok dan Pasir berbisik, kedua bocah kembali unjuk gigi dengan cueknya. Saat kami masih kedinginan, mereka melepas syal, jaket dan sarung tangan. Melihat hamparan pasir seperti melihat play ground terasyik yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Berlarian sana sini, tanpa syal, tanpa jaket dan blazer, tanpa sarung tangan, bahkan nyeker. Duh ya, nurun siapa ini anak dua *tutup muka emak-emaknya*.

Membuat asap debu dengan berlarian di hamparan pasir sambil tertawa riang. Tanpa terlihat lelah sedikit pun.

Jujur kalau ditanya tipsnya apa, saya juga bingung jawabnya. Karena saya bukan type emak yang sanggup detail banget menyiapkan banyak hal. Ingatnya yang standart-standart saja. Seperti cukup makan, cukup istirahat. Meski terkadang susah, karena anaknya jarang mau tidur siang, malam suka tidur larut. Jadi biasanya Bapaknya yang rajin memijat ringan saat Alisha tidur.

Kalau ingat perjalanan Alisha ngetrip jarak jauh, saya pikir ini juga salah satu faktor pendukung. Pertama kali saya ajak wara-wiri jarak jauh saat usianya baru 4 bulan. Lebaran 2009, Jakarta jawa Timur, Alisha bayi sudah saya gembol ke sana-sini. Naik turun kereta yang padat, sepeda motoran dari Tulungagung, Bojonegoro sampai Surabaya. Pulang jalan, cukup kami pijatkan ke nenek pijat kampung. Saat berusia satu tahun, saya bawa ke Kalimantan Selatan. Lebaran 2011 saat masih dua tahun, saya ajak ngetrip dari Jakarta, Borobudur sampai Madura. Dan itu tidak dengan fasilitas firt class. Maklum ya, kami dompetnya tipis hahaha.

Naik turun bis ekonomi, kereta ekonomi, eh pernah naik kereta bisnis juga ding. Semoga suatu saat bisa naik eksekutif ya Sha. Pesawat, kapal laut juga sudah pernah. Kapal laut dari yang besar dan enak, sampai yang keletekan bikin perut mual juga sudah. Dan Emak dan bapaknya mabok, Alisha tetap full power petakilan.

Kalau Rafa, memang Kris yang sangat detail dan pprotektif. Apalagi dia sangat menyadari anak cowok semata wayangnya ini mudah sakit. Jadi memang harus sangat protektif dan detail. Kapan-kapan saya rincikan detailnya Kris ya, karena dia masih belum ngeblog.


Alisha dan Rafa, sehat terus ya. Semoga suatu saat bisa menjelajah ke tempat lain lagi bersama-sama.

15 komentar:

  1. Meski udaranya dingin anak-anaknya tetap semangar bermain :D

    BalasHapus
  2. wah anak2 hebaattt!jdi jln2 juga seru ya mak klo anaknya hepi,klo sy blm berani ajak syafieq ke tempat jauh nih,anaknya bosenan,dikit2 ngajak plg,hi hi...

    BalasHapus
  3. aaaah hebat niih..pada semangaaat jalan-jalan..aku jadi pengen ke Bromo mak :)

    BalasHapus
  4. waaah kakak adik bener-bener bersenang-senang yaaa....

    BalasHapus
  5. Kadang kita bis terkejut sama fisiknya anak kecil :p Dulu pas mendaki ke puncak Bromo aku bareng sepupu umur 5 tahun. Aku ngos-ngosan dia kuat banget :P Hahaha

    BalasHapus
  6. Aku belum pernah ke Bromo nih. Jadi kepengen

    BalasHapus
  7. Pingin deh bawa trio krucils ke Bromo, ayahnya sdh ada niat tahun ini ke Malang dan sekalian ke Bromo. Tapi emaknya masih ketar ketir, mereka kuat gak yaa. apalagi klo mau ngejar sunset dan sejenisnya kan harus tengah malem jalan ...
    Tapi kelaitannya Alisha n Rafa enjoyy aja yaaa

    BalasHapus
  8. seru yaa trip sama keluargaa :D untung ga rewel yaa anakanaknya :)

    BalasHapus
  9. wah..ke Bromo..aku belum pernah ke Bromo mak seumur hidup hehehehe T_T

    BalasHapus
  10. hahaha... sampai di pinggir jalan maen pasirnya. bawa pulang bunda pasirnya. biar bisa maen di rumah

    BalasHapus
  11. pengen banget bawa boyz ke bromo. ya itu takut si bungsu belum kuat

    BalasHapus
  12. hehheee,,, krucil2mu itu lucu2 ya. gemes.
    mereka kynya asik2 aja tuh diajak jalan jauh.

    BalasHapus
  13. aahhh..iccaaa ga ajak2 niiy tripnya padahal kan pengen ngedora jugaaa :)

    BalasHapus
  14. wah anak2 hebaattt!jdi jln2 juga seru ya mak klo anaknya hepi,klo sy blm berani ajak syafieq ke tempat jauh nih,anaknya bosenan,dikit2 ngajak plg,hi hi...

    BalasHapus