Mengejar Indahnya Bromo Sampai Gempor

Keindahan yang bisa dinikmati setelah gempor dulu berjuang sampai atas :))



“Wow...keren banget, semoga suatu hari bisa menginjak sana”

Komentar yang banyak muncul saat melihat foto-foto pemandangan indahnya alam Indonesia di berbagai lini dunia maya. Baik web, sosial media dan beragam portal lainnya. Saya juga salah satu yang pelaku komentar “Wow...” ini.

Foto tempat wisata memang selalu menghadirkan komentar "Wow..." dan menghadirkan keinginan serta rasa yang berlanjut pada keinginan bagi yang melihatnya untuk juga bisa menginjakan kaki di sana.
Itu dari sisi pemirsa, bagaimana dari sisi pelaku atau pemilik foto yang mengabadikan keindahan tersebut secara langsung? Sudah pasti foto-foto indah tersebut menyimpan banyak kisah tak terlupakan. Bisa kisah yang bikin tengsin,  merasa dudul, kisah lucu, kisah sedih. Tapi tentu saja tak ketinggalan kisah dan rasa bahagia.

Dan membahas berjuta kisah di balik kebahagiaan yang terpancar di wajah kita dalam sebuah foto wisata, saya jadi ingat kenangan "gempor heboh" saat jalan-jalan menjelajah kawasan indah Gunung Bromo pada liburan lebaran lalu.

Rebutan spot terbaik untuk menikmati sunrise dengan maksimal ;)
Kisah yang tidak sekedar tentang keindahan yang nyata sebuah keindahnya lukisan Yang Maha Kuasa dalam lekuk-lekuk alam yang terhampar luas. Tidak juga sekedar tentang keindahannya yang menarik banyak orang untuk akhirnya berkunjung ke sana.Libur lebaran lalu bersama keluarga kecil dan keponakan tercinta, akhirnya bisa juga menginjakan kaki ke salah satu destinasi wisata impian traveller tidak hanyadari Indonesia, tapi juga dunia. Gunung Bromo, kawasan wisata memikat di Jawa Timur Indonesia.

Jujur sebelum benar-benar sampai sana, yang terbayang sih yang indah-indah. Sunrise, kawah indah gunung berselimut awan. Hingga deretan perbukitan kokoh menjulang dan lautan pasir berbisik tertiup angin.


Tak terbayang hal lain, yang ada hanya rasa excited tentang keindahan. Mulai dari jauh-jauh hari saat memesan guide, home stay dan sebagainya. Meski sebenarnya saya sudah diperingatkan oleh beberapa sahabat yang pernah ke sana “Ke Bromo itu capek lo, badan rasanya koclak” Ujar Mak Noe di chat whatsapp. Saya paham, hanya saja yang tidak saya pahami adalah “Capek” yang dimaksud adalah “Sangatttt capek” hahahaha *ngakak dudul*.

Akhirnya hari yang ditunggu tiba juga, dari Surabaya saya, Bapaknya Alisha, Alisha bersama Kris dan Raffa berangkat ke Malang. Kami dapat tiket malam dan sampai di Malang sekitar pukul 22.30 WIB. Meyusuri Kota Malang dalam kerlip cahaya lampu malam menuju home stay di Desa Gubugklakah yang harus kami tempuh selama sekitar satu setengah jam dari Malang Kota.

Disambut guide kami yang ramah, kami akhirnya istirahat sebentar sebelum mekaloni perjalanan ke Bromo. Hanya dua jam kami bisa leyeh-leyeh di kasur dalam kamar home stay yang itupun tidak bisa tidur karena pikiran dipenuhi semangat untuk segera menjelajah ke puncak Bromo. Sekitar pukul dua dini hari akhirnya kami mulai perjalanan. Menaiki mobil Jjib yang dari penampakannya terlihat kalau usianya sudah tidak muda lagi, tapi tetap terasa kuat dan prima dalam kendali tangan sopir yang lihai dan berpengalaman, kami menyusuri jalanan berliku, mendaki, berkelok dan yang paling menyesakan adalah berdebu.

Debu tebal yang bahkan dalam kegelapan malam tetap terlihat mengepul seperti kabut saat tersorot sinar lampu mobil Jip. Debu tebal yang bertebaran meningkahi liukan keras Jib di jalanan pegunungan yang rusak, berbatu, lubang sana sini benar-benar sebuah “hajaran” dasyata untuk tubuh. Dua jam perjalanan akhirnya kami sampai juga di kaki gunung menuju puncak Seruni Point.


Cahaya kehidupan  yang perlahan muncul 

Karena baru pertama kali, saya pikir ini sudah sampai. Ternyata untuk melihat kawah indah dan sunrise kita harus naik ke atas gunung yang tingginya jangan ditanya. Dalam kondisi dingin luar biasa, yang tak tertahankan merasuk tubuh hingga ke sumsum tulang. Meski sudah memakai  pakaian berlapis, kerudung berlapis, topi woll tebal dan sarung tangan tebal, tetap terasa tak tertahankan dinginnya. Tapi perjalanan tetap harus berlanjut, kita harus naik ke puncak untuk menikmati keindahan Bromo yang sudah lama diimpikan.

Dan akhirnya apa yang terjadi? Setengah jalan saya benar-benar nggak kuat lagi cyinn. Dingin, pegal, sampai sesak nafas menyergap dan akhirnya membuat saya memutuskan naik kuda. Lagi-lagi setelah naik kuda dan sampai pada titik tertentu, saya pikir sudah sampai di titik yang dituju, ternyata masih ada anak tangga lagi yang harus dinaiki. Meski anak tangga sudah diset berliku kanan kiri, tetap saja menurut saya sangat curam dan melelahkan. Huahhh, benar-benar gempor sampai di atas. Saat sampai di atas, ternyata sudah menjelang terbit matahari dan semua pengunjung rebutan untuk memilih spot terbaik untuk mengabadikan moment tersebut.





Lukisan Sempurna Yang Maha Kuasa


Jadi kalau diingat lagi sebenarnya kami agak sedikit lambat naik, karena begitu sampai atas ternyata masyarakatnya sudah bejibun. Tapi ya mau bagaimana lagi, dalam keadaan masih ngos-ngosan saya dan Kris nekat ikut berdesakan dengan pengunjung lain. Mencari spot nyaman untuk mengabadikan semua moment. Apalagi saat melihat melihat  pancaran sinar indah yang mulai muncul di ufuk timur, semangat rebutan spot terbaik untuk mengabadikannya semakin meninggi :P

Dan abaikan lirikan kesal, senggolan balasan dan lain-lainnya :D

Mikirnya simple kok “Sudah capek-capek berjuang sampai atas rugi kalau dong kalau nggak bisa ikut mengabadikan moment indah ini?”. Dan akhirnya kelelahan terbayar dengan kepuasan dan kebahagiaan luar biasa, saat melihat indahnya lukisan Sang Maha Kuasa.



Sunrise, kawah berkabut, hijaunya bukit batok, deretan bukit Telletubies dan pasir berbisik. Semua kelelahan terlupakan sejenak dengan menyaksikan keindahan-keindahan ini. kenapa saya bilang sejenak? Karena saat sudah pulang dan samai home stay lagi kelelahan yang luar biasa kembali bergelayut dan menuntut tubuh serta mata untuk istirahat full dan benar-benar tak bisa diabaikan hahaha :)))

Semoga suatu saat bisa kembali menikmati keindahan ini ;)



Lebih ngenes lagi saat berganti baju baru sadar, kaos, cardigan dan jaket semua menjadi sarang debu pasir halus. Berasa habis mandi pasir deh pokonya :D

Tapi yang namanya keindahan alam selalu menjadi candu, sekarang ini, saat ini melihat lagi foto-foto saat di sana, serasa ingin kembali ke sana lagi. Dan bertekat suatu saat kalau ada kesempatan dan rejeki ingin kembali lagi. Dan tentu saja harus dengan fisik yang lebih prima.

Yukk, siapa yang mau barengan ngetrip ke sana? :D


12 komentar

  1. wihhhhhhhhh hebat nang bromo...
    aku wes suwe nggak nang kono mbak...ra kuat mundak e tuwek saiki

    BalasHapus
  2. Ya ampuuunnn indah bangetttttt....pengeennnn, aku kira2 kuat gak ya kalo ke sana mak *-*

    BalasHapus
  3. huwaaa, fotonya bikin pengin ke bromooo. next trip, agendain, agendain. :3

    BalasHapus
  4. selamat mak sudah sampai atas Bromo...aku pernah kesana tapi nggak ikutan naik...soalnya bawa baby Athiyah yg saat itu usia 10 bulan. bisa dibayangkan kalo sayanya ikutan naik sambil gendong itu bocah...

    BalasHapus
  5. aku belum pernah naik gunung, paling ke gunung gede aja Mak

    BalasHapus
  6. Saya ke Bromo udah belasan tahun yang lalu, Mak. Masih kebayang waktu ngos-ngosan sampe ke puncak he..he..Tapi terbayarkan dengan pemandangannya yang indah ya Mak.. :)

    BalasHapus
  7. Aku wegah dinihari kesana, jadi kesananya pagi2.

    BalasHapus
  8. Alhamdhulilah udah sampe sana juga..sepadan lah sama perjuangannya :)

    BalasHapus
  9. wooo aku jadi pengen pergi ke gunung bromo nih ^^

    BalasHapus