Senin, 31 Agustus 2015

Melatih Kreatifitas Di Desa

Alisha & Zombie Batang Pisang kreasinya :)


Masih tentang kisah mudik ke kampung saat lebaran lalu.

Pulang ke kampung halaman saat lebaran yang utama memang untuk silaturahmi, terutama ke orang tua dan keluarga besar. Berkutat dengan suasana lebaran dengan beragam makanan khasnya. Membincang beragam kue-kue khas yang harus disiapkan.

Tapi di luar itu, hal yang tak kalah penting dan tidak boleh dilewatkan oleh orang tua seperti saya dengan putri yang masih kecil berusia 6 tahun adalah tentang memperkenalkannya ke alam pedesaan yang luas dan tanpa batas. Alam pedesaan yang ramah dengan beragam fasilitas alami untuk melatih kreatifitasnya, berkreasi mengembangkan imajinasi.

Saya bukan orang tua yang suka sibuk untuk menyiapkan banyak hal printil-printil untuk anak saya saat akan pulang ke kampung. Seperti membawa mainan favoritnya dengan alasan supaya dia tidak rewel. Tidak, saya tidak pernah melakukan itu sedari Alisha kecil. Saya malah lebih kuatir mainan itu jadi rebutan dengan para saudaranya di kampung kan malah jadi ribet.


Alat musik, Zombie & Pesawat dari batang pisang ala Alisha :D

Selain itu saya justru lebih suka membaurkan Alisha di tengah para sepupunya untuk lebih dekat dengan mereka. Membiarkan Alisha mengikuti aktifitas saudara-saudaranya, bermain bersama mereka. Dan di desa tentu bermain anak tidak akan jauh-jauh dari yang namanya halaman berpasir dan tanah. Kebun penuh tanaman terpelihara maupun liar. Inilah menurut saya alam pedesaan yang luas tanpa batas untuk melatih imajinasi dan kretaifitasnya.

Bukan berarti saya berkata di kota kreatifitas minim, hanya suasana dan fasilitas yang berbeda tentu akan mengahsilkan imajinasi dan kreatifitas yang berbeda pula. Menurut saya lingkungan di desa maupun kota memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam membentuk imajinasi dan kreatifitas seorang anak.

Menurut Alisha & saudara-saudaranya, ini "Nasi sayur" :))


Kalau di kota, dengan mainan instant yang bisa dibeli di toko mainan anak akan dilatih untuk “menjalankan” mainan tersebut. Di desa, anak seperti Alisha akan lebih dituntut untuk belajar “mengolah” mainan  yang ingin dia mainkan.

Kalau di kota dia punya beragam boneka yang tinggal dia jalankan, maka di desa dia dipacu untuk melatih diri membuat boneka tersebut. Seperti apapun bentuknya. Tapi membuatnya tahu bahwa batang pisang bisa dikreasikan menjadi boneka zombie ala Alisha.

Di kota dia punya drum dan gitar mainan, di desa dengan batang pisang dia bisa membuat sendiri alat musik ketiplakan. Kalau di kota dia bangga bisa memainkan alat musik sesuai imajinasinya sambil berdendang semaunya, maka di desa dia bangga bisa menciptakan ‘alat musik’ sendiri ala Alsiha. Saking bangganya dia tidak sempat memainkan, hanya dipandangi sambil tersenyum seolah membatin “Ini karyaku” :D

Layangan hasil karya anak-anak desa :D


Di halaman berpasir dia bisa berkreasi semaunya membuat istana pasir. Atau ikut saudaranya yang lebih besar ke kebun mengambil pohon bambu untuk dibuat layangan besar, sebesar tiga kali tubuhnya. Dari sini dia tahu bahwa salah satu bahan untuk menciptakan layangan adalah bambu. Yang kalau di kota dia tidak pernah tahu ini, hanya tahu layangan kecil seharga dua ribu perak.

Ya, menurut saya pulang ke desa salah satunya adalah sarana meningkatkan kretifitas dan imajinasi anak, yang pasti akan sangat penting dan memberi pengaruh signifikan untuk perkembangannya.

Bahwa memberikan pengalaman yang berbeda dari kesehariannya akan memperkaya imanjinasinya tentang luasnya dunia. Dan salah satu caranya adalah dengan memperkenalkan hal-hal yang tidak selalu berbau moderen dan mahal.Semua tergantung kita, orang tua dan lingkungan sekitar mengarahkan dan memberi supportnya bagaimana.



Salah satunya ya memperkenalkan kreatifitas desa yang tanpa batas.

23 komentar:

  1. kangen desaaa..kesederhanaannya bikin jatuh cinta ya mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Becull, tapi tuntutan ekonomi mengharuskan berjibaku di kota ik *curcol* :))

      Hapus
  2. aaaah takuuuut ada zombie :) jadi kreatif ya anak-anak sampai mudiknya panjang gitu mak iceol :)

    BalasHapus
  3. haha unik juga batang pisang dibuat jadi aneka bentuk barang. Jadi inget dulu waktu kecil, kult jeruk bali sering kubuat jadi mobil2an :D

    BalasHapus
  4. hadeuh inget zaman dulu main gituan haha

    BalasHapus
  5. Emak-emak zaman sekarang harus tetap mempertahankan kreatifitasnya d^____^b

    BalasHapus
  6. Setuju bgt sm kak Icoel #eaaakakak hahahaha

    Di desa banyak mainan anak tradisional juga yang bisa dikenalin yah mak :D

    BalasHapus
  7. Asyik banget itu mainan dari kayunya sih Aishaaaa :))

    Pasti seneng banget deh mainnya :))

    BalasHapus
  8. kalau di makassar,,
    aku juga tinggal di desa
    banyak banget memang yang bisa
    di eksplore di desa :)

    BalasHapus
  9. Kenapa zombie sih? Hahahaaa.... Mainan di desa memang asik.

    BalasHapus
  10. bener2 sebuah kreatifitas ya, mereka memberi nama yg sesuai menurutku...

    BalasHapus
  11. Jadi kangen masa kecilku dulu hahahaha.... maen kue lumpur, mie-miean dari rumput, geprekin bata jadi bumbu lotek ala-ala yang sayangnya ga bisa dimakan :D. Pulang sekolah simpen tas, lalu maen sampe sore, sampe bau matahari, eksotis dan disemprot ortun karena kelamaan maen :D

    BalasHapus
  12. Ya ampuun Alisa, kamu mengingatkanku pada 20 tahun yang lalu. Mainannya persis kek kamu di atas. :D

    Kurang mie2an yg ada di tetean gitu. Ntar jadi bakso. :D

    BalasHapus
  13. Itu saya banget waktu kecil, suka bikin.pistol dari batang daun pisang. Anak sekarang bnyk yg main bgini ga ya.

    BalasHapus
  14. gede bangeeet layang-layangnya sukaaa

    BalasHapus
  15. ueenakkk yooo neng ndesooo
    kangen kampung huhu
    *pake akun papih minjem wkwkkw

    BalasHapus
  16. wah keren, desa punya banyak hal menarik untuk di explore. mari lakukan gerakan bergembira dikampung

    BalasHapus
  17. hehehe udah jarang banget saya lihat yang main kayak gini. Jadi kangen masa kecil :D

    BalasHapus
  18. Betul sekali mbak Icoel kita perlu sekali-kali membawa anak untuk pergi ke lingkungan desa, di desa banyak yang bisa kita explore berbahan alam, waktu di bawa ke Cianjur, Alfi mengumpulkan beberapa ranting yang bisa dibuat jadi mainan bersama anak2 lainnya

    BalasHapus
  19. wahh dulu penrah buat layangan kaya gitu tapi kertas nya sobek,,, kalo yang di foto kaya dari plastik mba bahannya?

    BalasHapus
  20. lebih asyik kan alisha bisa bikin mainan sendiri
    setujua mbak Icul .. anak2 mesti dilatih adaptasi dengan lingkungannya ya

    BalasHapus
  21. Layangan sgede itu gimana nerbangkan nya :-) #Penasaran

    BalasHapus