Kamis, 26 Maret 2015

Pentingnya Gizi Untuk Masa Depan Berkualitas


SDM berkualitas adalah salah satu faktor penting dalam kemajuan sebuah Negara. Karena SDM yang mengelola dan mengatur semua jalannya roda kehidupan, baik di pemerintahan dan masyarakat. Tapi untuk negara berkembang seperti Indonesia, dengan jumlah penduduk masuk 5 besar terbanyak di dunia, menjadi tantangan tersendiri menciptakan SDM berkualitas.


Moderator, Mbak Arleta & Bapak Arif Mujahidin, Corporate Affairs Head Sari Husada

Tantangan tersebut antaranya kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan. Tidak hanya pada masalah minimnya infrastruktur yang masih belum merata, tapi juga tentang masih rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat. Salah satu yang sangat nyata di depan mata adalah kesadaran dan pengetahuan tentang kesehatan yang meliputi mall nutrisi, baik yang kurang maupun kelebihan gizi. Dan dibutuhkan kerjasama semua pihak untuk mengatasi hal ini. Tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga pihak swasta dan masyarakat sendiri.

Narsum : Dr.Martine Alles & Prof.Hardinsyah  

Nutrisi Untuk Bangsa (NUB), sebuah komitmen yang didirikan oleh Sari Husada untuk ikut berperan aktif dalam mengatasi masalah kekurangan Gizi di Inodnesia, khususnya pada  pada Ibu dan balita, kembali hadir dengan program #NutriTalk yang tujuan utamanya memberikan edukasi secara kongkrit dan kontinyu pada masyarakat tentang pentingnya pemenuhan gizi untuk menciptakan SDM yang berkualitas, sehingga mampu menciptakan masa depan yang berkualitas dan berdampak memajukan bangsa dan negara di masa depan.

Untuk di lingkungan pribadi, menjadi SDM yang berkualitas adalah salah satu jalan untuk mengentaskan diri dan memotong mata rantai kemiskinan.

Dan tema #NutriTalk kali ini yaitu “Sinergi Pengetahuan Lokal dan Keahlian Global Sebagai Solusi untuk Perbaikan Gizi Permasalahan Kesehatan dan Pertumbuhan Anak Anak Bangsa”
Acara yang diadakan di Ruang Mutiara 1, Hotel JW Marriott Jakarta pada 20 maret 2015 ini menghadirkan nara sumber Dr. Martine Alles, Direktur Directorn Developmental Physiology and Nutrition Early Life Nutrtition dan Prof. Dr. Hardinsyah, MS, Ketua Umum PERGIZI PANGAN. Dihadiri Media dan Blogger sebagai corong penyebaran informasi dan edukasi melalui media masing-masing kepada masyarakat. Sebagaimana yang dijelaskan Bapak Arif Mujahidin, bahwa NUB akan selalu menggandeng media dan blogger bersinergi menyebarkan edukasi pada masyarakat tentang kesadaran untuk memenuhi gizi seimbang.

Pada presentasinya Dokter Martine, menjelaskan tentang data pertumbuhan tinggi badan yang dialami masyarakat Belanda yang masuk dalam golongan negara maju. Pada usia anak, remaja dan dewasa muda tercatat pertumbuhan positif tinggi badan dari 163 cm pada pada awal abad ke 19, meningkat signifikan hingga 184 cm pada awal abad 20. Selain mengalami peningkatan tinggi badan, Belanda juga mengalami peningkatan berat badan lahir. Hal ini dibarengi dengan percepatan tingkat kematangan seksual.

Pertumbuhan sekular positif ini terjadi karena dihapusnya faktor-faktor penghambat keseluruhan pada potensi biologik diantaranya kemiskinan, penyakit menular dan yang paling penting adalah masalah kekurangan gizi. Faktor utama lain peningkatan pertumbuhan pada tinggi tubuh adalah perbaikan gizi dan kesehatan anak, higiene, dan berkurangnya besaran keluarga (Keluarga Berencana).

Untuk pemenuhan gizi, berdasarkan kajian yang dilakukan pada awal 1930, bahwa konsumsi susu akan berdampak positif pada siswa. Maka Belanda memberikan susu gratis pada masyarakat termiskin. Pada periode 1977 Uni Eropa juga memberi subsidi susu pada siswa-siswa sekolah. Sekarang meski subsidi sudah tidak ada, tradisi mengkonsumsi susu tetap tinggi.

Saat ini di Belanda terjadi pelambatan pertumbuhan, tapi tidak untuk penduduk transmigran. Tetap terjadi pertumbuhan signifikan pada tinggi badan mereka, jadi bisa disimpulkan masalah pertumbuhan tinggi badan tidak mutlak karena gen. Tapi juga ditentukan kecukupan pemenuhan gizi.
Belanda juga pernah mengalami masa sulit setelah Perang Dunia II, di mana banyak wanita-wanita Belanda mengalami kurang gizi dan gizi buruk akibat kelaparan, berdampak kelahiran bayi-bayi lahir dengan berat badan lahir rendah sehingga beresiko tinggi terhadap obesitas, sindrom metabolisme dan diabetes pada usia dewasa.  

Dari pengalaman ini, Dr. Martine menekankan pentingnya 1000 hari pertama masa pertumbuhan. Sejak bayi dalam kandungan harus benar-benar diperhatikan kebutuhan gizi Ibu sebagai sumber utama pemenuhan gizi bayi dalam kandungan. Agar tidak kurang atau terlalu berlebihan. Karena keduanya memiliki dampak yang sama buruknya. Saat bayi lahir, gizi untuk Ibu menyusui dan bayi juga harus cukup. Kalau gizi Ibu cukup, maka akan lebih mudah memberikan ASI eksklusif yang kaya manfaat.

Kenapa 1000 hari pertama? Karena pada masa itu terjadi perkembangan kognitif (intelegensi), saluran cerna, organ metabolik & kekebalan tubuh dengan pesat.


Kondisi Permasalahan Gizi Secara Umum di Indonesia dan Kesimpulan
Dan dari kasus yang sering terjadi di Indonesia, sebagai mana dalam pemaparan kedua yang diberikan oleh Prof.Hardinsyah, peningkatan ekonomi tidak berbanding lurus dengan peningkatan gizi masyarakat. Masih banyak masyarakat Indonesia yang mengalami defisiensi.

Kasus yang sering terjadi di Indonesia salah satunya adalah susah mengubah pola pikir. Contohnya  “saat hamil dan menyusui berarti Ibu harus makan dua kali lebih banyak karena harus berbagi makanan dengan buah hati” padahal ini tidak benar, tapi bagaimana makan dengan porsi sesuai tapi mengandung gizi cukup dan seimbang untuk Ibu dan anak dalam kandungannya, hingga anak lahir dan menyusui. Masalah lain kurang paham sepenuhnya, harus browsing dulu  “Apa sih kandungan gizi makanan ini?” (salah satunya saya :D)

Masih minimnya masyarakat mengkonsumsi sayur dan buah. Memasak sayur dengan cara yang kurang tepat seperti mengolah sayur dengan kuah yang banyak tapi kuah tidak dikonsumsi. Padahal kuahnya mengandung banyak gizi.
Defiensi YangMasih Banyak Terjadi dan Upaya Memperbaikinya 


Karena itu meski grafik pertumbuhan ekonomi memperlihatkan peningkatan, Indonesia masih masuk dalam golongan memprihatinkan dalam hal pemenuhan gizi. Hal ini terlihat dari tingkat pertumbuhan tinggi badan saat ini yang masih berkisar 168 cm untuk pria dan 159 cm untuk wanita. Ini sama dengan kondisi Belanda di akhir tahun 1800 dan awal 1900.

Sebenarnya sudah ada beberapa program yang yang cukup sukses seperti pemenuhan Yodium melalui kampanye penggunaan garam beryodium. Vit A melalui posyandu. Tapi masih banyak terjadi defisiensi protein, asam lemak esensial, zat besi, kalsiun, zink, asam folat dan Vit D. Karena itu melihat masih rendahnya tingkat pertumbuhan tinggi badan masyarakat Indonesia yang dapat digunakan sebagai refleksi keadaan masyarakat secara umum, sehingga masih harus digenjot terus edukasi  tentang pemenuhan gizi seimbang terutama untuk Ibu hamil, Ibu menyusui dan balita. Kenapa? Karena dibutuhkan untuk pertumbuhan jangka pendek dan jangka panjang buah hati.
Pertumbuhan Jangka Pendek & Jangka Panjang YAng MEmerlukan Gizi Cukup & Seimbang


Dalam acara ini juga akhirnya membuat saya tahu pentingnya Vitamin D yang selama ini oleh mayoritas masyarakat hanya dianggap sebagai Vitamin pelengkap. Kekurangan Vit D dalam kasus internasional memperlihatkan pengaruh kuat pada kualitas pertumbuhan anak. Contoh kasusnya terjadi di Eropa dan Amerika Serikat pada abad 19, anak-anak mengalami riketsia (Pelemahan dan pelunakan tulang) yang disebabkan jam kerja yang panjang, polusi udara dan kurangnya terpapar sinar matahari.

Penyembuhan dilakukan antara lain dengan memberikan minyak hati ikan kod, terapi ringan, membawa anak-anak liburan ke kamp, dan wajib melakukan fortifikasi pada mentega sejak 1961.
Kondisi ini juga terlihat saat ini di kota-kota besar seperti Jakarta. Semakin sempitnya lahan terbuka hijau, semakin padatnya perumahan penduduk, mangakibatkan polusi, tertutupnya sinar matahari untuk langsung masuk dan menimpa tubuh. Padahal sinar matahari sangat enting dalam mengubah “calon” Vit D dalam tubuh menjadi Vit D yang berfungsi untuk pertumbuhan tulang dan metabolisme tubuh.

Dari data yang tercatat ternyata di Asia juga mengalami hal yang sama, salah satunya Malaysia yang asupan Vit D masih sangat rendah. 



Karena itu sangat dianjurkan :

  • Olahraga rutin di luar ruangan yang terpapar matahari minimal 2-3 kali seminggu, selama 20 menit. Jadi jangan hanya di gym, karena hanya akan dapat otot tapi tidak mendapat Vitamin D. Begitu juga untuk bayi, menjemurnya dengan matahari terbaik dari pukul 9-11 pagi selama 20 menit sangat dianjurkan.
  • Sering mengajak anak bermain di luar ruangan, bermain di alam.
  • Untuk yang berhijab oleh Prof.Hardinsyah juga dianjurkan untuk sering berganti warna hijab dengan yang lebih cerah karena warna gelap susah menyerap manfaat panas matahari dan mentransfernya dalam tubuh.


Dari data yang dipaparkan Dr.Matine tidak semua bisa langsung diterapkan serupa di Indonesia, karena tetap harus memperhatikan kebiasaan dan tradisi makan yang sudah pasti berbeda-beda. Tapi intinya asupan makro dan mikro tetap harus seimbang. Salah satu contoh baik yang bisa diterapkan adalah konsumsi susu yang sangat penting karena yang sangat kaya kalsium, asam folat dan zat gizi lain.

Dan pada dasarnya Indonesia adalah negara kaya keanekaragaman hayati yang bisa untuk memenuhi semua keperluan gizi masyarakat Indonesia dengan harga yang juga terjangkau. Dari laut dan daratan Indonesia semua mengandung kekayaan yang bisa memenuhi kebutuhan gizi seimbang masyarakatnya.

Tinggal kita harus mempelajari dan memahaminya dengan benar untuk mendapatkan gizi yang seimbang.


Dan kesimpulannya :

Pemenuhan gizi seimbang di Indonesia untuk Ibu hamil, Ibu menyusui dan balita masih sangat kurang, hal ini terlihat dari data masih banyaknya bayi lahir dengan berat badan dan tinggi badan kurang. Pertumbuhan tinggi badan anak-anak, remaja dan remaja dewasa yang juga masih banyak kurang.
Tapi hal ini bisa diperbaiki juga dengan gizi, terutama berfokus pada 1000 hari pertama pertumbuhan dengan terus memberikan edukasi tentang gizi seimbang. Melalui berbagai gerakan penyebaran informasi yang masif tentang pemenuhan gizi di berbagai media hingga turun langsung ke masyarakat.

Sangat penting juga memberdayakan Ibu rumah tangga untuk meningkatkan ekonomi, pengetahuan tentang gizi melalui berbagai program. Seperti program pelatihan berbagai lembaga peningkatan ekonomi, program edukasi kesehatan di Poasyandu. Tidak hanya Ibu tapi juga ayah dan anggota keluarga lain agar ikut berperan serta mengawasi pemenuhan gizi seimbang pada Ibu hamil, Ibu menyusui dan balita. Karena buah hati adalah tanggung jawab bersama.

Dan buah hati adalah generasi penerus keluarga dan bangsa. Kalau buah hati tercukupi kebutuhan gizinya, maka akan tumbuh sehat dan berkualitas, dengan sendirinya akan bisa hidup berkualitas dengan masa depan yang lebih baik dan mentas dari kemiskinan. Masyarakat berkualitas akan memajukan bangsa dan negara.




13 komentar:

  1. Kalau buah hati tercukupi kebutuhan gizinya, maka akan tumbuh sehat dan berkualitas, dengan sendirinya akan bisa hidup berkualitas dengan masa depan yang lebih baik dan mentas dari kemiskinan. Masyarakat berkualitas akan memajukan bangsa dan negara. Setuju....

    BalasHapus
  2. Sepakat, Mak.
    Kami pun beberapa pekan yang lalu mengadakan seminar 1000 hari pertama.
    Jika Emak memiliki waktu luang, silahkan berkunjung ke https://nurlienda.wordpress.com/2015/03/02/kampanye-1000-hari-pertama-kehidupan-di-salman-itb/
    :D

    BalasHapus
  3. 1000 hari pertama yang memegang peranan penting. Thanks infonya mba...

    BalasHapus
  4. langsung cek gizi anak nih, perhatikan makanan yang kurang apa. makasih sharenya mak iceol

    BalasHapus
  5. doohh panjang amat nih tulisan,...:)))

    mak icoeelll....sinih main ^_^

    BalasHapus
  6. Setujaaaaa... hahaha :D 1000 hari yang sangat berarti bagi bangsa dan negri ini.. hihi :D

    BalasHapus
  7. Dulu berpikir begitu juga saya mba pas hamil. makan 2kali lebih banyak. padahalyang penting itu kualitas ya bukan kuantitas.

    BalasHapus
  8. kapan, ya, generasi kita tingginya sama kayak masyarakat Belanda? Memang masih PR besar banget buat bangsa kita, nih :)

    BalasHapus
  9. Sekarang banyak cara bagi wanita untuk mendapatkan beragam informasi yang berguna ya.
    Makasih sharing informasinya Mak. Mantap!

    BalasHapus
  10. makasih sharing pengetahuannya mak :)
    posyandu di tempat saya, pengetahuaannya masih kurang mak :(

    BalasHapus
  11. Enak ya mamah2 sekarang bisa dapat pengetahuan gizi dari mana aja :)

    BalasHapus
  12. Setuju banget, pemenuhan gizi itu penting bahkan sejak awal masa kehamilan. Terima kasih sudah berbagi infonya :)

    BalasHapus