Jumat, 07 Maret 2014

Riview 99 Cahaya Di Langit Eropa Part 2


Salah Satu Bangunan Sejarah Muslim di Cordoba


Kali ini saatnya membuat riview film 99 Cahaya Di Langit Eropa Part 2 yang hari ini 6 maret 2014 mulai tayang di bioskop Indonesia. Beruntung sekali beberapa hari lalu saya berkesempatan menghadiri Gala Premier film ini di XXI Epicentrum Kuningan. Yang mana juga dihadiri oleh kedua penulis Novel 99 Cahaya Di Langit Eropa pasangan suami istri mbak Hanum Salsabiela Rais dan mas Rangga Almahendra, juga Bapak Amien Rais dan deretan pesohor lain Negeri Ini.


Di 99 Cahaya Di Langit Eropa Part 2 ini sendiri tidak seperti Part 1 yang lebih menitik beratkan pada sejarah Islam di Eropa yang ditunjukan melalui perjalanan pasangan Hanum dan Rangga menelusuri bangunan-bangunan bersejarah yang ada di Paris dan lain-lain. Sehingga banyak scene jalan-jalan para tokohnya ke berbagai tempat dan bangunan bersejarah yang menceritakan perjalanan muslim di Eropa. Meski ada sedikit scene di Cordoba Spanyol dan Turki.



Scene Hanum di Cordoba



 Di Part 2 kali ini lebih menitik beratkan kepada bagaimana usaha seorang Rangga Almahendra yang didampingi istrinya menghadapi lingkungan dengan minoritas muslim yang mana sebagian benar-benar membutuhkan perjuangan tersendiri. Menghindari godaan lawan jenis, yang bahkan tidak memahami kewajiban dan peraturan saat akan sholat tidak boleh bersentuhan karena bukan muhrim. Dan Rangga berusaha memberi pengertian kepada sahabatnya Maria tentang hal ini dan pada istrinya, Hanum yang tidak begitu suka pada kedekatan mereka.


Dan yang lebih seru tentu kisah persahabatan “ruwet” antara Rangga, Khan dan Stefan. Dimana Stefan digambarkan sebagai seorang Atheis dan selalu bertengkar dengan Khan soal keyakinan. Dan dengan sabar Rangga menengahi mereka dengan caranya. Satu scene yang sangat berkesan bagi saya adalah saat Rangga memukul tangan Stefan yang langsung kesakitan. Ini dilakukan saat Rangga menjelaskan argument Stefan soal “Syetan terbuat dari api dan kalau dimasukan Neraka yang penuh api maka akan pas dan seru”. Tapi logika yang diberikan oleh Rangga sangat keren, saat tangan (kulit) memukul tangan yang artinya “kulit Vs kulit” dan yang timbul justru menimbulkan sakit. Kesimpulannya meski Syetan terbuat dari api kalau dimasukan ke dalam api maka yang ada tetap terbakar dan panas juga.


Tapi meski Stefan seorang Atheis< Rangga tidak pernah merendahkannya. Lebih pada menghargai pilihan Stefan dan berharap Stefan juga melakukan hal yang sama padanya dan Khan. Yang mana dengan Khan hampir setiap hari Stefan bertengkar dan mendebatkan tentang keyakinan masing-masing.


Dan secara garis besar 99 Cahaya Di Langit Eropa Part 2 ini member pesan moral kuat tentang bagaimana menghargai perbedaan. Menegakan prinsip dan kewajiban di tengah minoritas yang akan selalu menjadi pertanyaan.

Dan di Part 2 ini kita juga tahu bagaimana akhirnya seorang Hanum memutuskan untuk berhijab. Bagian yang juga menjadi inti dari cerita ini yaitu bagaimana seorang Hanum justru akhirnya mendapat hidayah menggunakan hijab justru saat berada di Eropa. Benua dengan minoritas muslim, bahkan seringnya muslim mendapat diskriminasi tidak hanya dari masyarakat tapi juga dari pemerintahnya sendiri. Padahal Eropa adalah salah satu tempat yang pernah menjadi kekuatan Islam yang besar di masa lalu.


Dan akhirnya saya sangat merekomendasikan film ini, terutama pada sering suka berdebat tentang perbedaan. Selamat menonton!

12 komentar:

  1. sebelum part 2 keluar, temen2 udah pada ribut nonton. baca review ini makin kepincut pingin nonton, heuheu..

    nice review, mak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayooo mak nonton, kece pake bingit (y)

      Hapus
  2. wah menarik banget nih untuk di tonton....jadi penasaran.........

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buruan nonton mak, keren pokoknya :)

      Hapus
  3. 99 cahaya part 1 nya aja keren, wah makin penasaran sama part 2 nya
    *brb nonton*

    BalasHapus
  4. Yg bagian 2 ini jalan ceritanya lebih menyentuh...siapin tissue hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak, beberapa scene terutama pas mau habis bener2 bikin terharu :)

      Hapus
  5. Hwaa jadi mupeng ke bioskop

    BalasHapus
  6. Kece nih reviewnya mak darling jd pengen nonton yg kedua, yg pertama nonton dan specchles saat sikecil siapa namanya tuh kena kanker itu. knp ya sisi melankolik dan dramatis slalu pd penyakit ituh...

    BalasHapus