Sabtu, 31 Agustus 2013

Peluang Investasi Besar Di Laos







Diantara 10 negara anggota Asean Laos adalah salah satu yang tidak begitu “populer” menurut saya. Sangat jarang ada berita yang berlebihan dari Negara negara posisinya yang terkurung daratan Asia Tenggara ini. Hal ini disebabkan sifat tertutup satu-satunya Negara komunis yang tersisa ini. Bahkan saking tertutupnya Laos bergabung dengan WTO saja merupakan berita KEJUTAN bagi dunia. Namun belakangan Laos mulai berkembang seiring dengan mulai membuka dirinya terhadap dunia. Hubungan yang mulai berkembang kuat dengan China, menjadi anggota WTo, membuka diri dengan anggota Asean dan melonggarkan control ekonomi dan mulai memberi kesempatan swasta.



Sebagai Negara dengan tingkat kepadatan penduduk paling rendah di Asean dan dengan potensi sumber daya alam yang luar biasa karena memiliki hutan lebat yang difungsikan sebagai area konservasi keanekaragaman hayati yang bila selesai akan menjadi taman Nasional terbaik dan terluas di Asia Tenggara. Sumber air melimpah yang bisa digunakan untuk pembangkit listrik. Belum lagi budayanya yang mana meski hanya berpenduduk mencapai 7 juta jiwa namun di Laos terdapat sekitar 100 kelompok etnis yang mempengaruhi dan menciptakan keanekaragaman kebudayaan dan potensi-potensi lain yang sebenarnya sangat menarik dikembangkan sehingga menarik investor dan bisa membuka lahan kerja seluas-luasnya bagi masyarakatnya. Kondisi Laos memang belum sepenuhnya bagus meski dengan potensi yang luar biasa. Hal ini terlihat dari besarnya jumlah migrasi penduduknya yang memiliki tingkat pendidikan tinggi ke Negara lain yaitu 37% Bank dunia mencatat pada tahun 2005 dan menjadi terbesar ke 5 di dunia yang mana hal ini di sebabkan oleh minimnya lapangan pekerjaan.



Dan bila berandai-andai saya adalah pemimpin Laos, kira-kira saya akan melakukan kerjasama apa saja ya dengan Negara Asean yang lain dan akan memberikan apa saja bagi sebagai benefit baik bagi Asean dan Negara anggota lainnya?
Pertama akan membuat kerjasama dibidang pendidikan dengan semua Negara Asean. Akan mengirim banyak orang-orang muda potensial Laos untuk belajar ke Negara tetangga Asean dan memasukannya ke semua Unversitas ternama yang ada d Negara masing-masing dengan melakukan “kontrak mati” dengan mereka begitu selesai pendidikannya maka harus kembali ke Laos untuk bahu membahu mebangun Laos agar sejajar dengan Negara Asean lain tempat mereka belajar. dengan terbentuknya Komunitas Asean maka Laos bisa meminta berbagai kemudahan untuk mahasiswanya yang sedang menempuh pendidikan tersebut.





Selanjutnya dengan melanjutkan rencana pembangunan jembatan persahabatan dengan Thailand. Dimana infrastruktur ini akan dengan mudah dipromosikan untuk menarik wisatawan ke dua Negara Asean sekaligus. Kebudayaan laos yang masih original yang mana salah satu cirinya dengan dibangunnya Ock Pop Tok yaitu tempat merupakan bagian dari gerakkan yang kian berkembang di Laos dan ini bertujuan untuk melestarikan kebudayaan Laos yang kaya agar tak tergerus jaman. Pusat Kesenian Tradisional dan Etnologi ini didirikan di Luang Prabang. Bukankah perpaduan sempurna untuk sebuah paket wisata. Begitu juga keberadaan sungai Mekong yang jadi perbatasan kedua Negara bisa dikembangkan menjadi wisata “Dua Negara” sekaligus. Dalam satu perjanan menyusuri dua Negara.
Dengan Indonesia bisa bekerjasama mengembangkan Taman Nasional Keanekaragaman Hayati karena sama-sama memiliki barisan hutan. Bisa saling bertukar informasi, ilmu dan penerapan langsung. Dengan kerjasama ini maka kedepannya bisa tercipta “Asean adalah paru-paru dunia”. Meski selama ini sebenarnya sudah ada kerjasama dalam dua tahun belakangan antara Indonesi dan Laos dalam perdagangan dan Investasi. Dan sedang dalam penjajakan untuk membuka jalur penerbangan langsung antar kedua Negara. Tapi dengan adanya perjnjian komnitas Asean maka hal ini tentu akan semakin berkembang dan lebih mudah.

Tidak memiliki jalur laut adalah salah satu kondisi Laos, karena perdagangan lebih banyak dilakukan melalui jalur pelayaran maka untuk melengkapi jalur perdagangan kerjasama juga akan dipererat dengan Vietnam dan Kamboja dan Myanmar selain dengan Thailand sebagai Negara yang berbatasan langsug dengan Laos sebagai jalur perlintasan resmi untuk perdagangan dengan Negara lain. Dan hubungan Laos dengan China yang menjadi semakin dekat bisa menjadi jembatan semakin memeprerat hubungan Asean dengan China pula yang selama ini sudah berjalan melalui AFTA

Dan kerjasama yang sama dalam perdagangan dan investasi juga akan dilakukan dengan Negara lain anggota Asean. namun yang paling penting adalah investasi besar-besarn harus dilakukan di Laos. Karena sifatnya yang mengisolasi diri dimasa lalu membuat Laos belum dilirik dan mejadi pilihan para investor. Dan belakangan baru terjalin hanya dengan beberapa Negara saja terutama diluar Negara Asean. Dengan Komunitas Asean dan segala kemudahannya, Laos bisa menunjukan secara perlahan potensinya sebagai Negara yang layak untuk di lirik. Dengan kepadatan penduduk yang rendah sehingga masih banyak terbuka lahan investasi yang luas maka memudahkan Laos untuk memberi kesempatan seluas-luasnya kepada Negara Asean untuk bereksplorasi segala bidang di Negaranya. Dan ini akan mempercepat Laos dalam membangun infrastrukturnya yang masih sangat minim, dimana rel kereta pun belum ada disana. Padahal lahan pertambangan sebagai salah satu investasi incaran banyak pelaku usaha juga adadi Laos, khususnya tembaga dan emas.

Jadi kalau saya ada di Posisi Laos, itulah hal pertama yang akan saya lakukan yaitu membuka lahan investasi seluas-luasnya bagi seluruh Negara Asean dengan kemudahan yang bahkan mungkin tak terbayangkan sebelumnya. tidak hanya sekedar menghapus bea masuk, pajak ringan, kemudahan birokrasi tapi juga menambahkan fasilitas-fasilitas lain yang memuluskan masuknya investasi namun tetap dalam jalur pengawasan yang seimbang dan sesuai jalurnya.

Jadi, para pengusaha Asean terutama Indonesia mari berinvestasi di Laos karena di datarannya yang luas dan sebagai satu-satunya Negara Asean yang tidak memiliki jalur laut


Tidak ada komentar:

Posting Komentar