Senin, 26 Agustus 2013

Salon Thailand Masuk? Indonesia Mampu Menghadapinya!!








Menyongsong realisasi pembentukan Komunitas Asean yang akan mulai diterapkan pada tahun 2015 itu sangatlah mendebarkan. Kenapa demikian? Karena sudah pasti akan banyak perubahan dan pengaruhnya terhadap masyarakat Asean yang berjumlah sekitar 600 juta jiwa dengan Indonesia menduduki peringkat pertama penduduk terbanyak mencapai 237 juta jiwa lebih pada sensus tahun 2010 . Meski kita tahu tujuan pemerintah 10 negara anggota Asean membuat dan menandatangani kesepakatan ini adalah untuk membangun masyarakat yang kuat, lebih maju dan memiliki daya saing Internasional tapi tak akan dipungkiri akan tetap ada dampak negatif yang butuh perhatian ekstra. Dan inilah yang membuat masyarakat kecil seperti saya cukup berdebar-debar dan saya yakin banyak masyarakat lain merasakan hal yang sama. Karena cukup trauma dengan program-program pemerintah dengan kerjasama internasionalnya yang ternyata banyak “melibas” masyarkatnya sendiri. Salah satu contohnya adalah perjanjian ACFTA, bagaimana perdagangan bebas ini memporak-porandakan industri dalam Negeri. Tapi mari kita selalu berpikir positif dan optimis bahwa Pemerintah Indonesia dan masyarakatnya sudah banyak belajar dari sini dan sekarang sudah sipa dengan penuh optimis menghadapi Komunitas Asean 2015.



Image dari Sini


Komunitas Asean 2015 dengan tiga pilar utamanya yaitu komunitas keamanan, sosial budaya dan ekonomi akan benar-benar memberi efek luar biasa pada penduduk Indonesia terutama dalam ASEAN Economic Community (AEC) atau Komunitas Ekonomi Asean (KEA) yang mana nantinya seluruh masyarakat Indonesia akan bebas berakspansi ke suluruh Negara Asean dan juga sebaliknya tanpa prosedur yang rumit namun tetap harus memenuhi hal dan syarat tidakhanya sekedar ijazah, tapi juga harus memiliki sertifikat berbasis kompetensi yang telah ditetapkan dibarengi dengan skills yang mumpuni.

 
Salah Satu Salon & Spa di Tebet (foto Pribadi)


Dengan kondisi ini maka suatu saat dengan mudah kita akan menjumpai berbagai UKM milik masyarakat Malaysia, Singapore, Thailand dan Negara Asean lain berederet-deret masuk Indonesia yang dengan penduduknya yang besar adalah sebuah pasar yang menggiurkan. Salah satu contohnya adalah salon professional bersertifikasi Internasional milik pengusaha Thailand yang bisa saja dalam beberapa tahun kedepan aka nada di depan mata kita saat kita mulai menginjakan kaki keluar rumah. Dan bila ini terjadi bagaimana dengan salon-salon lokal?


Saya selalu percaya setiap orang yang terjun ke dunia bisnis apapun bidangnya sudah tahu bahwa bisnis itu kejam dan penuh persaingan. Siapa yang tidak kreatif, malas mengupdate dan menciptakan inovasi terbaru dan tutup mata terhadap sekelilingnya sudah pasti akan tergusur. Begitu pula masyarakat Indonesia pasti sudah sadar dengan hal ini terutama masyarakat yang menggeluti bisnis Salon di Kota-kota besar Indonesia salah satunya tentu Jakarta. Di era globalisasi sepeerti sekarang, dimana informasi mengalir dengan deras dan cepat, setiap pengusaha salon lokal pasti akan tahu dengan cepat perkembangan yang ada melalui berbagai media dan dengan cepat pula mengupdate semua yang baru termasuk saat ada salon baru dengan label Made In Luar Negeri. Dan saya yakin dan percaya sekarang sudah banyak masyrakat Indonesia yang kritis dengan keadaan di sekitarnya apalagi bila keadaan tersebut berpengaruh langsung ke pribadi masing-masing. Seperti mempengaruhi jalan bisnisnya maka dengan cepat mereka akan juga bertindak memperbaiki diri agar pelanggan tidak kabur dan tergusur.

Bahkan sebelum Komunitas Asean diterapkan, sebenarnya sudah banyak salon dan spa yang saya tahu sudah mulai menerapkan standar Internasional pula. Salah satunya adalah sebuah salon di Tebet dimana menurut pemiliknya yang sempat ngobrol dengan saya menerangkan bagaimana beliau mengelola bisnisnya dengan standart tinggi untuk kepuasan pelanggan. Dan persaingan yang ketat ini menghasilkan inovasi yang luar biasa dari para pemilik bisnis salon terutama untuk yang diperkotaan. Mereka semua sadar untuk memiliki sesuatu yang unik dan khas untuk membedakan satu dengan yang lainnya agar menarik perhatian konsumen. Dan ini adalah salah satu sarana mencerdaskan masyarakat juga. Dimana orang yang terjun di bisnis ini akan terus belajar dan belajar mengupdate hal baru dan kemampuannya untuk bisa memenangkan kerasnya persaingan emski harus membayar mahal dan berburu ilmu hingga ke luar negeri. Dan ini juga garis besar jawaban seorang sahabat yang terjun di binis salon saat saya tanya “apa yang dia lakukan untuk bertahan dari kerasnya persaingan? Dan bayangkan kalau beberapa tahun kedepan banyak bermunculan salon berlabel luar Negeri dan bersertifikat Internasional?” 



Dari jawabannya terlihat bahwa dia yakin untuk bertahan salah satunya adalah dengan belajar inovasi yang baru meski untuk masalah ekspansi salon Thailand kedepannya sendiri dia belum memiliki bayangan.

Bahkan kebetulan sekali beberapa hari yang lalu saat mudik di kampung halaman sempat mampir ke salah satu salon di sana membawa putri saya merapikan rambutnya. Saya yang ceriwis sempat ngobrol tanya ngalor-ngidul. Terutama soal konsumen di desa yang sudah pasi karateristiknya berbeda dengan konsumen kota. Salah satu yang Beliau jelaskan adalah Saiki akeh saingan mbak, lek ora iso ngasilne seng apik ora enek seng moro” (sekarang banyak saingan mbak, kalau tidak bisa menghasilkan yang bagus tidak ada yang datang). Dan beliau juga menjelaskan bagaimana kerja keras belajar tren rambut dan make up ala Kpop pada sebuah seminar dan pelatihan bersertifikat dengan membayar biaya lumayan yang diadakan sebuah brand ternama yang bekerja sama dengan seorang hair stylis terkenal untuk memenuhi keinginan pasar. Menurut beliau orang banyak menyebutnya rambut ala artis Korea seperti Ayu Ting Ting dan Cherrybelle. Duh…saya yakin ini pengaruh infotainment! Karena saat saya tanya apa beliau tahu atau punya akun sosmed seperti twitter, FB, IG atau blog mungkin? Beliau jawab tidak tahu, internet saja tidak bisa sama sekali. Ibu pemiliki salon ini memang sudah tak muda lagi, jadi saya maklum kalau beliau belum tersentuh sosmed dan internet hehe J!

Tapi setelah membaca tema hari pertama Asean Blogger ini, saya jadi berpikir seharusnya Ibu pemilik salon itu harus belajar Internet juga dan membuat akun sosmed untuk berpromosi. Karena menurut saya sosmed adalah media terampuh dan terbesar saat ini untuk berpromosi dan inilah yang membedakan Salon di perkotaan dan di daerah pelosok seperti kampung leluhur keluarga saya ini. Hampir semua salon di perkotaan memiliki akun sosmed untuk mempromosikan salonnya. Untuk memberikan info diskon dan berbagai paket perawatan terbaru untuk menarik pelanggan dari para followersnya di sosmed.

Jadi garis besarnya saya sangat yakin dengan kemampuan SDM yang dimiliki Indonesia untuk bersaing, meski banyak yang masih harus di poles sana sini agar bisa menginternasional baik secara kwalitas maupun kwantitas.

Potensi Terpendam Pedesaan,Pemandangan dan Sari Beras Untuk Kecantikan (Boyolangu Tulungagung, dok.Pribadi)


Saya membayangkan suatu saat nanti dengan kekuatan teknologi informasi yang ada saat ini, banyak masyarakat Indonesia memanfaatkannya dengan maksimal untuk mempromosikan Indonesia terutama industri pariwisatanya. Hingga suatu saat desa-desa dengan pemandangan Indah di pelosok Tanah Air yang salah satunya adalah kampung halaman saya akan bisa menjadi tujuan wisata yang populer. Dan saat wisatawan butuh relaksasi setelah lelah bertraveling ria dan membuka mbah Google dimana bisa merapikan penampilan serta menikmati perwatan tubuh untuk mengembalikan kesegaran maka akan salah satu nama salon yang ada di kampung saya ini akan muncul di layar gadgetnya. Bukankah ini menakjubkan?

Tapi semua tentu saja harus dengan dukungan berbagai pihak terkait, tidak hanya Kementrian Luar Nnegeri. Seperti Kemkominfo untuk pembinaan masyarakat melek IT, Kementrian Negara Koperasi dan UKM dan Kemenparekraf untuk pembinaan pada pengusaha kecil salah satunya pengusaha salon. Seperti memberi pelatihan gratis atau pelatihan berbiaya ringan bagaimana memanfaatkan potensi alam di sekitar untuk dikembangkan menjadi paket perawatan unik dan merkhasiat seperti lulur dari sari pati beras yang dipercaya bisa menghaluskan kulit. Ditambah aroma rempah-rempah alami khas Indonesia untuk aroma terapi perawatan tubuh dan sebagainya sehingga menghadirkan inovasi unik berciri khas Indonesia sehingga tidak melulu masyarakat Indonesia yang terkenal sangat konsumtif pada lifestyle dipaksa mengikuti dan menikmati tren Negara lain. Tapi juga sebaliknya, sehingga akan menimbulkan rasa bangga pada masyarakat Indonesia sendiri dan semakin mencintai Made in Indonesia. Dan berbagai elemen pendukung lainnya yang salah satunya tentu saja blogger dengan berbagai konten positifnya dalam mempromosikan Indonesia di mata dunia Internasional. Dan mensosialisasikan Komunitas Asean 2015 kepada seluruh masyarakat sendiri tentunya agar benar-benar siap menghadapinya. Dan dengan dukungan semua pihak yang saling bergandengan tangan, kedepannya tidak hanya Salon Thailand yang berada di wilayah rumah kita. Tapi juga sebaliknya, salon perawatan tubuh dengan ramuan tradisional khas Indonesia saya yakin juga akan bisa berada di pelosok Thailand. Asal semua pihak terkait juga monsisten mendukung.


Jadi mari bersama saling mendukung dan bergandengan tangan untuk menghadapi kebebasan dalam Komunitas Asean 2015 demi majunya Indonesia terutama dalam Komunitas Ekonomi Asean.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar