Rabu, 10 April 2013

Belajar Dari Noda




Siapa yang belum tahu buku ke 27 Fira Basuki? Kali ini aku akan mengulas buku ciamik yang berjudul Cerita DiBalik Noda ini. Buku  Cerita diBalik Noda ini adalah sebiah buku yang berisi kumpulan 42 cerita pendek inspirasi jiwa, 38 diantaranya adalah kisah dari ibu Indonesia yang yang diseleksi dari event lomba menulis dengan tema Cerita Di Balik Noda yang diadakan oleh Rinso dan ditulis ulang oleh Fira Basuki dengan gaya bahasanya yang khas dan ringan. Dan empat cerita yang lain adalah inspirasi dari pengalaman pribadi Fira sendiri. Semua kisah ini sendiri menghadirkan kisah tentang noda dan “noda”.

Cerita yang dikemas ringan dan mudah dipahami oleh pembacanyal. Di dalam buku ini di ceritakan bagaimana pergulatan kehidupan tumbuh kembang anak yang selalu bersinggungan dengan noda. Baik noda dalam artian yang sebenarnya yaitu kotor karena berbagai sebab seperti lumpur, debu, tinta dan sebagainya. Dan “noda” dalam artian perasaan atau pikiran negatif yang juga salah satu penghambat tumbuh kembang seorang anak.   

Dari buku ini aku jadi lebih yakin lagi dengan pola pengajaran yang ku berikan untuk anakku selama ini. Dimana bahwa tidak ada yang perlu dikwatirkan dari noda yang digumuli oleh anak kita dalam kesehariannya. Karena dengan mudah akan bisa dibersihkan. Karena dari situ seorang anak bisa belajar dan tahu serta peduli pada lingkungannya. Dari noda seorang anak bisa belajar berjuta kreatifitas yang mampu meransang kepekaan pikirannya dan kualitas emosionalnya. Membuatnya jadi seorang anak yang lebih peduli pada sekelilingnya. Memberinya imajinasi yang luas akan sebuah kehidupan.

Salah satu contohnya adalah saat dia ulang tahun aku lebih memilih membuat kue sendiri untuknya. Dan dengan rasa penasarannya yang tinggi maka jangan harap anak perempuanku yang hampir berusia 4 tahun ini tinggal diam saja menonton. Dengan segala tingkahnya dia akan ikut “mengganggu” semua kegiatanku hingga membuat kotor seluruh dapur dan tubuhnya sendiri. Bajunya dan seluruh tubuh akan terkena tumpahan pewarna makanan yang ku gunakan untuk menghias kue tart ulang tahunnya. Tapi sesaat kenudian dia akan berkata “mama, ini seperti tante-tante yang masak di TV ya?” dan aku senang mendengar celotehnya itu. Menandakan dia sudah memiliki imanjinasi yang tinggi.

Dan dari buku ini, aku jadi tahu bahwa bukan hanya seorang anak yang bisa belajar tumbuh kembang dengan penuh pembelajaran, tapi juga orang tua pun bisa belajar dar seorang anak. Betapa seorang anak adalah sumber ilmu, sumber inspirasi pula bagi para orang tua.

Dari noda kotor yang digeluti seorang anak saat beraktifitas, terkadang terkandung pesan mendalam bagi orang di sekelilingnya. Aku jadi ingat ponakanku Vandy  yang sekarang duduk di kelas 4 SD. Ayahnya adalah kakakku. Pernah satu kali pulang bermain badannya kotor. Katanya main bola di tanah kosong di sekitar perumahan tempat tinggal kakakku yang kondisi tanahnya becek karena habis hujan. Dia pulang sambil ngomel. Vandy memang teergolong galak dan suka ngomel. Melihatnya dalam kondisi kotor langsung oleh mamanya disuruh mandi. Sambil mandi dia cerita “ma, tadi Redi dimarahi mamanya gara-gara main bola sampai  kotor semua bajunya. Vandy juga diomeli disuruh pulang berhenti main bola. Padahal kalau kotor tinggal mandi aja kan ma, banyak air dan sabun buat mandi sama nyuci baju” celotehnya. Aku dan kakak iparku ngakak mendengar omelannya. Betapa dia sebenarnya sudah tahu, bahwa kotor itu bukan masalah berat untuk ditakuti.

Dari buku ini sendiri aku sangat suka cerita yang berjudul Sarung Ayah halaman 55. Menurut Fira saat peluncuran bukunya, cerita ini terinspirasi dari kisah pribadinya saat suaminya tercinta meninggal tahun lalu. Betaapa dia sangat sedih dan selalu berfikir betapa enak jadi anak kecil seperti anaknya yang seolah tidak pernah merasakan kesedihan karena kehlangan. Tapi ternyata akhirnya dia tahu bahwa pikrannya salah. Betapa hatinya dipenuhi “noda” prasangka yang tidak benar. Yaitu saat melihat anaknya selalu memainkan sarung favorit ayahnya hingga kotor dan bau. Hanya untuk menutupi rasa kangennya pada ayahnya yang telah tiada. Sarung kotor dan bau yang dipakai anaknya telah menyadarkannya.

Jadi aku merasaisi buku ini benar-benar mengajarkan padaku, bahwa Berani Kotor itu Baik. Tidak ada yang harus dikwatirkan dari kotoran dan noda karena membersihkannya itu sangat mudah. Justru dari kotor dan noda sangat banyak pembelajaran yang bisa diambil. Baik untuk tumbuh kembang anak maupun untuk untuk orang tua dalam menerapkan pendidikan yang baik untuk anaknya yang akan menuntun si anak pada masa depan yang cemerlang.

12 komentar:

  1. yeayyy aku yg ppertama komenttt :)

    keren2 repiuwnyaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertamax mak..hehe, tapi yang lain juga keren2 mak :D

      Hapus
  2. saya yang keduaa, dapat hadiah nih :D
    *becandaa

    wah Mak penggemar Fira ya? Sampe tahu ini buku ke berapa

    BalasHapus
    Balasan
    1. hadir dilaunchingnya mak hehe..tapi aku baca sih sebagian novel dia :)

      Hapus
  3. semoga nyangkut....betapa riviu ini menyentuh sekali....betapa banyak kata betapa :P...hihihi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. begitulah mak kalo nulisnya mefet DL hihihi.....jadi banyak kata yg ga terkontrol :P

      Hapus
  4. Vandy yang cerdas .. kan tinggal mandi dan cuci aja ya .. :)
    *Tapi yang nyuci siapa Vandy? - kalo saya nanya balik begini ke anak saya soale saya n=yang nyuci sendiri :D*

    Gutlak ya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihi....dia pasti akan punya seribu jawaban yang super pintar tapi #nyelekit lagi mak :)

      Hapus
  5. Hihihi, jadi keder, pada bagus-banget reviewnya..moga beruntung Mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mak, semoga beruntung juga :)

      Hapus
  6. Reviewnya keren ah! Bakalan masuk nominasi nih kayaknya deh. Sukses ya, Mak. :)

    BalasHapus
  7. aduh mak Alaika...makasih sudah mampir, inimah tim hore biar banyak pesertanya :)

    BalasHapus