Jumat, 28 Desember 2012

Resolusi dan Kesadaran Pribadi Melestarikan Sumber Air Bersih (Alam)



Membahas tentang ketersediaan sumber air bersih memang selalu akan menimbulkan keprihatinan. Terutama karena masih sedikitnya masyarakat yang menyadari bahwa saat ini keberadaan sumber air bersih sudah mulai minim dan memprihatinkan. Betapa masyarakat belum menyadari bahwa sumber air bersih diseluruh belahan bumi sudah mulai memprihatinkan termasuk di Indonesia sendiri, betapa sumber air bersih sudah sudah mulai langka keberadaannya.

Padahal semua orang tahu arti penting air bagi kebutuhan hidup manusia. Mulai dari kebutuhan dalam tubuh secara langsung. Karena komponen utama  tubuh manusia adalah air  yaitu 60% dari berat tubuh. Ditambah kebutuhan diluar tubuh seperti untuk mandi, mencuci dan kebutuhan lainnya sehari-hari. Sumber di sini. Dan bila pemenuhan kebutuhan akan air bersih terganggu maka akan berdampak serus bagi kehidupan, terutama pada kesehatan manusia.



Bahkan saya pernah membaca sebuah artikel yang sangat menarik, bahwa sangat memungkinkan suatu saat bila sumber air bersih benar-benar mulai langka diberbagai belahan dunia maka dapat menjadi penyebab perang antar bangsa untuk memperebutkan lahan penuh sumber air bersih seperti halnya perebutan lahan minyak yang sekarang sering terjadi di berbagai belahan bumi sekarang ini. Tentu hal ini sangat menyeramkan bila benar-benar terjadi.


Bagi sebagian besar orang yang belum pernah merasakan kesulitan mendapatkan air bersih untuk pemenuhan kebutahan kahidupan mereka sehari-hari memang sangat sulit untuk menghargai keberadaan air.

Berbeda dengan orang-orang seperti aku yang sudah benar-benar pernah merasakan betapa sulitnya mendapatkan air bersih. Tinggal di daerah Tanjung Priok yang dekat dengan laut sehingga tidak ada lagi sumber air tanah yang bisa digunakan karena sudah terpapar garam air laut sungguh sebuah "sentilan" luar biasa. Ditambah kepadatan penduduk berdampak pada kepadatan bangunan yang menutup banyak lahan peresapan air semakin nemambah masalah serius pada pengadaan air bersih di daerah ini.


Dari sentilan ini membuat aku sadar bahwa berita, data, dan fakta di berbagai  media tentang kelangkaan air yang mengancam kehidupan manusia di belahan bumi ini benar-benar nyata. Meski pada masa remaja aku sudah ikut kegiatan pecinta alam dan sering ikut kegiatan penghijauan di mana-mana, mengetahui data-data tentang kerusakan alam yang tidak hanya pada pemanasan global, tapi juga pada kelangsungan siklus kehidupan makhluk didalamnya termasuk kelangkaan air bersih apabila kita tidak ramah pada lingkungan dan seluruh alam, tapi ternyata kesadaran baru muncul secara utuh setelah aku mengalami sendiri kesulitan akan air.


Sulitnya air bersih di tempat aku tinggal membuat air dihargai mahal. Dan itu menuntut orang-orang pendatang dengan status pengontrak seperti aku harus benar-benar hemat dalam menggunakan air bersih sehari-hari.

Mulai dari menampung air wudhu , air cucian beras dan sayur untuk digunakan kembali seperti untuk mencuci lap dan lain-lain. Menggunakan air bekas bilasan cucian untuk mencuci kendaraan suami dan tindakan lain yang berhubungan dengan penghematan air.


Hingga 6 tahun berlalu akhirnya rutinitas tersebut mulai menjadi kebiasaan aku dan suami. Dimana pun kami berada, secara refleks kami melakukan penghematan. Karena di kepala kami tertanam satu pikiran baru "betapa air bersih sangat berharga".


Meski untuk itu kami sering ditertawakan oleh banyak orang, bahkan terkadang oleh keluarga sendiri. Seperti saat berkunjung ke saudara atau orang tua yang ada di daerah, dan sumber air tanah yang ada masih melimpah, maka mereka akan tertawa geli melihat perlakuan hemat kami pada air bersih. Seperti "jangan samakan disini dengan di Priok, nikmati saja air dengan bebas".


Saat aku "ceramah" menerangkan tentang sumber air bersih yang mulai memprihatinkan, yang ada adalah jawaban "ah, itukan di Tanjung Priok, disini tidak". Memang sangat susah menumbuhkan kesadaran semua orang.


Padahal kalau dipikir lagi, masalah air ini tidak sebatas pada kesulitan mendapatkan air bersih. Tapi juga pada pengelolaan sumber air. Karena kalau tidak dikelola, air yang harusnya jadi "sahabat" karena menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari bagi tubuh dan lingkungan, akan berubah jadi bencana, banjir, longsor dan lain-lain.


Seperti daerah rumah orang tuaku di salah satu kabupaten di Kalimantan Selatan. Sekarang setiap musim hujan pasti mengalami banjir. Sangat berbeda dengan saat aku kecil dulu. Saat pepohonan masih banyak, sungai masih lancar dan normal. Pemukiman penduduk masih jarang.


Meski tak dapat dipungkiri, dengan semakin berkembang dan majunya suatu wilayah, maka kerusakan alam termasuk rusaknya sumber air bersih adalah salah satu dampak nyata yang harus dihadapi, karena banyaknya ekploitasi alam yang dilakukan oleh manusia sebagai salah satu penunjang pemenuhan kemakmuran hidupnya. Tapi bukankah sebenarnya kita bisa untuk meminimalisir dampak buruk tersebut.


Jadi menurut aku, langkah nyata untuk pelestarian sumber air bersih adalah kesadaran pribadi untuk melakukan langkah nyata yang dimulai dari diri sendiri. Kesadaran akan berharganya air bersih yang semakin langka sehingga harus kita jaga sumbernya.


Karena kita tidak bisa selalu berharap dan menuntut pada pemerintah. Dimana sebenarnya pemerintah sendiri sudah mengeluarkan banyak kebijakan untuk masalah ini. Seperti memerintahkan para pengelola gedung-gedung bertingkat (hotel, mall, apartemen dan lain-lain) agar mendaur ulang air yang telah digunakan. Kapal-kapal laut agar menggunakan teknologi "penawaran" air laut. Dan perturan lainnya.

Bahkan baru-baru ini karena banjir yang mulai melanda selama musim hujan Gubernur Baru Jakarta Jokowi juga merencanakan pembangunan sumur resapan dan deep tunnel untuk mengatasi banjir dan pengadaan air bersih di Jakarta.

Tapi apa arti semua perturan dan tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah jika tidak didukung oleh tindakan nyata dari masyarakatnya. Karena masyarakat adalah pemeran utama dalam hal ini.


Mari kita membangun diri sebagai pribadi yang sadar akan penting dan berharganya air bersih dan sumbernya. Dengan melakukan langkah nyata :

Menyisihkan sebagian kecil lahan di rumah kita untuk tanaman hijau, yang akarnya bisa menyerap air. Dimana selama ini banyak orang malas menyapu sampah daun dari pohon yang ditanam di halaman rumah, sehingga menutup semua tanah dengan cor beton, agar mudah menyapu dan tidak becek dan kotor saat hujan. Sebagian lagi alasan paling klasik dan sangat komersil adalah sayang lahan nganggur, lebih baik dibuat untuk bangunan petak yang bisa dikontrakan dan menghasilkan uang. Padahal satu hinga dua pohon di halaman rumah kita akan sangat berarti sekali. Jadi mari rubah kemalasan ini dan rubah pikiran yang selalu komersil.

Menyisihkan waktu dan sedikit dana untuk membuat sumur resapan di rumah masing-masing minimal satu. Selama ini berdasarkan dialog yang pernah ku lakukan pada beberapa orang di lingkungan tempat tinggalku, kenapa tidak membuat sumur resapan adalah karena biaya yang dianggap lumayan mahal karena sebagian tidak bisa membuatnya sendiri jadi harus membayar orang untuk membuatnya dan sebagian lagi adalah karena alasan waktu. Sibuk bekerja, berangkat pagi pulang malam, kalau libur capek maka digunakan untuk istirahat. Padahal kalau dikaji ulang, betapa kerugian lebih besar akan terjadi bila tempat tinggal kita pada musim hujan dilanda banjir dan pada musim kemarau kesulitan air. Jadi mari berkorban sedikit waktu dan uang untuk hal yang lebih besar.

Membuang sampah dengan benar, seperti memisahkan sampah plastik, sampah yang bisa didaur ulang dan mengurangi penggunaan sampah plastik di rumah. Bayangkan sampah plastik dan sampah lain yang susah terurai menutupi tanah kosong dan menghalagi air meresap kedalam tanah. Air akan mengalir kemana-mana jadi bencana berupa banjir. Jadi mari mulai biasakan membawa tas sendiri saat berbelanja untuk mengurangi penggunaan plastic yang sulit terurai dan berpotensi menutup tanah sehingga menghalangi air meresap kesumbernya.


Membiasakan diri menghabiskan makanan dan minuman yang tersaji untuk kita. Baik di rumah atau di manapun berada. Bayangkan jika makanan itu harganya dikonversi dengan jumlah air yang digunakan untuk memasaknya, dan harga yang dipakai adalah harga air mineral merek terkenal. Berapa juta terbuang saat makanan itu bersisa dan dibuang! Begitu pula saat minum, jangan dibiasakan menyisakan air di gelas atau botol air mineral yang kita beli. Sudah harganya lumayan, bayangkanlah di belahan dunia lain ada orang-orang yang sampai mati kehausan karena berebut air seperti yang terjadi di beberapa Negara Afrika. Belum lagi jumlah air yang harus digunakan saat mencuci peralatannya, piring dan lain-lain. Semakin banyak sisa makanan, semakin banyak air yang dikeluarkan untuk membersihkannya.


Apabila anda seorang pejabat yang memiliki pengaruh dalam beberapa kebijakan yang berhubungan dengan lingkungan, mari membangun kesadaran diri untuk benar-benar menegakan hukum yang berlaku dengan menindak tegas oknum yang melanggar. Seperti pengelola gedung bertingkat yang masih bandel karena belum melaksanakan peraturan pengelolaan air. Dan para pelanggar lainnya. Karena sudah jadi rahasia umum banyak pengusaha nakal di Negara kita yang tidak peduli pada dampak usahanya yang berpengaruh pada lingkungan tapi tidak pernah mendapat “sentilan” dari yang berwenang karena besarnya “setoran” para pengusaha. Mulai dari pajak resmi yang masuk kas Negara hingga pajak “tidak resmi” yang masuk oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Jika anda adalah pengusaha dan usaha yang dijalankan dampaknya berpengaruh pada lingkungan, maka mari bangun kesadaran bahwa alam yang rusak dengan sumber air yang buruk dan tidak sehatkah yang ingin diwariskan pada anak cucu anda kelak? Salah satu contoh kasus adalah bekas galian bahan tambang di daerah Asam-Asam dan Sungai Danau yang terletak di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan.

Seperti yang diceritakan seorang sahabat yang bekerja di Kementrian Lingkungan Hidup Kabupaten Tanah Laut, Emelia Meilawati. Dari ratusan pengusaha yang menjalankan bisnis tambang hanya sebagian kecil, bahkan hanya hitungan jari dari mereka yang sadar untuk menjalankan kewajibannya merecovery lahan bekas galian. Dimana setelah ditambang isi perut buminya, maka tanah yang terdiri dari beberapa lapisan harus dikembalikan lagi sesuai posisi tanah tersebut dan ditanami dengan pepohonan kembali. Agar bisa kembali pada fungsinya sebagai lahan resapan air dan sebagai paru-paru dunia. Dan ironisnya para pengusaha yang sudah mengeruk “kemakmuran” pribadi dari sini dengan licinnya tetap bisa berkelit dari hukum atas kelalaiannya ini. Padahal tanda-tanda kerusakan alam tersebut sudah nyata tersaji didepan mata.
Dimana tiap musim penghujan daerah Sungai Danau dan Asam-Asam sekarang jadi langganan banjir besar. Dan saat musim kemarau tiba, akan mengalami kesulitan air bersih. Jadi mari menjadi pengusaha yang memiliki kesadaran dan peduli lingkungan. Ingat, dampak negatif itu akan dirasakan oleh semua orang termasuk keturunan anda!

Beralih ke produk-produk ramah lingkungan. Salah satu contohnya adalah beralih dari dari menggunakan dispenser berteknologi biasa beralih ke dispenser berteknologi ramah lingkungan seperti Pure it dari Unilever yang berfungsi menghasilkan air bersih dan sehat siap minum tanpa menggunakan saluran pipa, gas dan listrik. Sangat praktis dan hemat biaya serta waktu.



Dimana sebagai water purifier ,Pure it memiliki empat tahap kerja,
Tahap 1: Saringan Serat Mikro – menghilangkan semua kotoran yang terlihat
Tahap 2: Filter Karbon Aktif – menghilangkan pestisida dan parasit berbahaya
Tahap 3: Prosesor Pembunuh Kuman – menghilangkan bakteri dan virus berbahaya dalam air
Tahap 4: Penjernih – menghasilkan air yang jernih, tidak berbau, dengan rasa yang alami
Komponen 2-3-4, dalam satu rangkaian disebut Germkill Kit, yang harus diganti setelah memurnikan 1500 liter air.

Yang mana alat ini sangat cocok digunakan dalam keseharian rumah tangga terutama untuk keluarga yang berdomisili di Jabodetabek dan Bandung yang 48% air tanah terkontaminasi bakteri coliform. Air yang dimasukan pun langsung berasal dari sumber air tanpa harus merebusnya dahulu. 

keunggulan Pure it antara lain :
  1. Sangat praktis. Hanya memasukkan air ke dalam alat dari bagian atas, Pureit akan memurnikan air untuk siap minum.
  2. Tidak memerlukan gas, listrik, dan saluran pipa.
  3. Biaya per liter pemurnian air hanya Rp100, jauh di bawah harga air galon dari merek ternama (Rp526/liter), air isi ulang (Rp187/liter), dan air rebus (Rp107/liter).
  4. Air terlindungi dari kuman berbahaya penyebab penyakit dengan menggunakan standar terketat EPA (Environmental Protection Agency) USA yang menghilangkan log 6 bacteria, log 4 virus, dan log 3 parasites.
  5. Pureit memiliki indikator yang dapat menunjukkan lebih awal kapan perlu mengganti Germkill Kit (mekanisme penghentian otomatis).
  6. Kapasitas hingga 9 liter di top chamber ditambah 9 liter di transparent chamber.
  7. Garansi satu tahun.
Sumber : disini

Dan yang paling utama dari itu semua adalah resolusi tindakan kita terhadap air itu sendiri. Seperti yang telah kupaparkan diatas. Mulailah berlaku “baik”terhadap air. Jangan menyalakan kran terus menerus saat menggososok gigi. Gunakan bak air saat mencuci kendaraan bukan membiarkan selang menyala terus menerus. Daur ulang air yang kita gunakan, seperti menampung air wudhu untuk menyiram bunga, air cucian beras untuk mencuci lap, air bilasan cucian untuk mencuci kendaraan dan tindakan lain yang bertujuan untuk mengefisienkan penggunaan air bersih.

Jadi mulai sekarang mari kita meresolusi diri sendiri lebih dulu dengan maksimal sesuai dengan peran dan posisi kita masing-masing. Sambil terus mengajak dan memberi contoh dan pengaruh positif pada orang-orang disekitar kita. Karena kita-kitalah “pelaku utama”. Pelaku utama sebagai perusak kelestarian sumber air dan pelaku utama pula sebagai orang-orang yang bisa untuk memperbaiki kerusakan itu. Jadi sebelum kita menuntut orang lain membuat perubahan, mari kita rubah dulu diri kita. Sedikit perubahan dari kita akan sangat berarti bagi semua, jika kita melakukannya bersama-sama.

4 komentar: