Rabu, 06 Juni 2012

Catatan Harian : Sampai Jumpa Dua Tahun Lagi Sahabat






Kemarin, senin malam tepatnya selepas magrib saya dan suami mengunjungi seorang sahabat yang mulai saya kenal enam tahun yang lalu tepatnya saat saya mulai menginjakan kaki sebagai seorang perantau di ibukota tercinta ini. Bahkan bisa dibilang dialah satu-satunya sahabat baik saya pada tahun-tahun pertama saya hidup di Jakarta. Dia adalah sahabat tempat saya curhat dalam segala hal, bahkan saat saya harus berurai air mata karena masalah cinta pun dialah tempat saya lari (hehehe….curcol).

 Hingga akhirnya amal tahun 2009 dia memutuskan untuk kerja sebagai BMI di Taiwan. Sebenarnya ini bukan pengalaman pertamanya jadi BMI, tapi yang pertama dia kurang beruntung. Saat kontrak belum selesai bahkan belum ada satu tahun berjalan sang majikan mengalami PHK diperusahaan tempat bekerja sehingga sahabat saya pun dipulangkan karena sang majikan merasa tidak sanggup lagi untuk membayar gajinya sebagai pekerja rumah tangga.

Pada keberangkatan keduanya kali ini sebagai BMI di Taiwan sahabat saya sempat mengalami masalah. Yang mana dia tidak betah ditempat majikan pertamanya. Lingungan kerja yang tidak kondisif membuatnya minta dicarikan majikan baru. Dan beruntung dia tidak butuh waktu lama untuk mendapat tempat baru yang Alhamdulillah dia bisa menjalaninya hingga masa kontrak berakhir selama tiga tahun. Dan oleh majikannya dia diminta untuk bekerja kembali dengan kontrak atau Visa baru dengan masa  kontrak dua tahun kedepan.

Pertengahan mei lalu dia mendapat cuti pulang untuk mengurus dokumen baru untuk kontrak dua tahun kedepan. Dan dimasa cuti yang singkat ini, dia juga menggunakannya untuk menikah dengan kekasihnya yang berasal dari daerah yang sama dengannya. Mereka hanya meresmikannya secara sederhana pada upacara ijab khobul yang dilaksanakan akkhir mei lalu.

Dan hari ini tanggal 6 Juni 2012 pukul 02.00 WIB dia kembali menaiki burung besi sebuah maskapai China yang siap membawanya terbang kembali ke Taiwan untuk kerja, mencari sedikit rejeki yang lebih banyak dari yang mungkin bisa didapatya jika hanya bekerja didalam negeri.

Saya pribadi sebenarnya sangat tidak suka gaya hidup ini, yang mana tidak hanya dijalani oleh sahabat saya. Tapi juga beberapa saudara saya. Bahkan kini dua keponakan saya juga masih menjalani kehidupan ini. Yaitu menikah dimasa cuti mereka dari pekerjaannya diluar negeri sebagai BMI, dan tidak lama kemudian, bahkan tidak sampai satu bulan mereka sudah harus berpisah karena harus kembali pada panggilan tugas sebagai seorng manusia yang harus bekerja memenuhi tuntutan hidup dan pekerjaan yang dipilih adalah sebagai BMI. Yang mana masa-masa indah sebagai pengantin baru harusnya dinikmati berdua dengan indah dan senang, harus rela ditunda hingga dua tahun kedepan. Masa yang seharusnya bisa digunakan untuk lebih saling mengenal lebih dalam lagi pada kebiasaan masing-masing, dan saling belajar lagi akan sebuah kehidupan rumah tangga yang sebenarnya harus ditunda. Dan tidak sedikit dari mereka yang mengalami kegagalan, contohnya adalah salah satu keponakan saya sendiri. Tapi apa daya keadaan mengharuskan demikian.

Sahabat saya ini menurut saya adalah orang yang tergolong cerdas. Dia supel, mudah bergaul, mudah mempelajari hal-hal baru dan juga punya jiwa bisnis yang lumayan bagus. Dari kebersamaan kami salam hampir tiga tahun sebelum keberangkatannya ke Taiwan, yang mana dia menjalani kehidupannya sebagai seorang pedagang kecil-kecilan sebenarnya sudah terlihat bakat besarnya sebagai seorang pedagang yang cukup mumpuni. Saat belum pulang cuti saya sempat bertanya apa dia tidak tertarik untuk membuka usaha sendiri, apa saja bidangnya karena dia sebenarnya mampu untuk itu. Dan dia menjawab bahwa itu memang cita-citanya. Tapi untuk sekarang modal yang dimilikinya belum mencukupi dan dia ingin memaksimalkan modal. Selain karena sayang dengan kesempatan yang ada. Yaitu majikannya yang masih membutuhkannya tentu sebuah kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

Seperti yang kita tahu, dari tahun ketahun jumlah masyarakat Indonesia terutama wanita yang berlomba-lomba untuk bekerja sebagai BMI terus meningkat. Hingga bisa dibilang kesempatan untuk mendapatkan tempat atau majikan dengan cepat sekarang tergolong sulit. Seperti yang dialami sahabat saya yang lain yang saat ini sudah hampir sepuluh bulan berada disebuah PJTKI di Bekasi belum juga berangkat kenegara yang diinginkannya karena PT nya belum mendapatkan majikan untuknya. Dan semakin lama di PT semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan sehari-hari selama di PT. Berarti semakin lama dan besar pula potongan gaji yang harus diterima saat nanti sudah bekerja. Karena inilah, sahabat saya tidak mau melepaskan kesempatan ini, selain karena dia juga sudah merasa cocok dan kerasan bekerja ditempat majikannya sekarang.

Pada pertemuan singkat tadi malam saya sengaja tidak ingin memeluknya terlalu lama, takut sedih dan menghadirkan suasana yang terlalu sentimantil. Meski sebenarnya saya benar-benar sedih melihat kondisinya yang kucel dan lelah karena selama dua hari ini dia didampingi suaminya sibuk kesana kemari mengurus berbagai dokumen yang diperlukan. Ditambah dengan melihat tubuhnya yang hampir tiga tahun ini tidak saya jumpai. Bukanya tambah bagus dan terlihat sehat tapi malah terlihat makin kurus dan kecil. Tiga tahun yang lalu saat terakhir menjumpainya di PJTKI yang berada di Jakarta Barat beberapa hari sebelum dia berangkat, kulitnya terlihat bersih dan segar, sekarang justru terlihat makin gelap dan kusam. Tapi ya, semua dari kita tahu bagaimana beratnya kehidupan seorang BMI dinegara perantauan. Meski uang yang didapat lebih banyak, tapi tetap saja tidak bisa menutupi rasa kesepian dan rindu akan keluarga dan tanah air yang pasti juga akan berpengaruh kekondisi fisik lahiriahnya.

Hingga akhirnya saya hanya bisa mendo’akan semoga apa yang dicita-citakannya tercapai. Rumah tangganya bahagia hingga dua tahun kedepan saat mereka kembali berkumpul bersama. Dan saya ingin suatu saat setelah kembali dari Taiwan dan membangun masa depannya kembali ditanah air tercinta ini dia bisa sukses dalam berbagai aspek kehidupannya. Terutama pada kehidupan ekonominya. Bukankah itu salah satu alasan dan tujuannya merantau bukan? Hingga suatu saat beberapa tahun kedepan saya berharap dan berkeinginan bisa menghadirkan profilnya kembali disini sabagai salah satu BMI yang bisa memberi  inpirasi bagi yang lainnya karena kesuksesannya dalam berbagai aspek kehidupanyang saat ini sedang diperjuangkannya.

Sekali lagi selamat jalan sahabatku sayang, semoga selamat sampai tujuan. Dan sampai jumpa lagi dua tahun yang akan datang. Kamu adalah salah satu dari beberapa sahabat terbaik yang aku miliki.

2 komentar:

  1. beruntung punya sahabat seperti itu, Mba.

    BalasHapus
  2. iya, bisa dibilang pertama kali jadi mahkluk perantauan dialah sahabat terbaik saya mas!

    BalasHapus